Kompetensi Kepribadian

BAB I

PENDAHULUAN

  1. A. LATAR BELAKANG MASALAH

“Pendidikan adalah salah satu bentuk perwujudan kebudayaan manusia yang dinamis dan sarat perkembangan.”[13] Oleh karena itu perubahan atau perkembangan pendidikan adalah hal yang memang seharusnya terjadi sejalan dengan perubahan budaya kehidupan. Perubahan dalam arti perbaikan pendidikan pada semua tingkat perlu terus menerus dilakukan sebagai antisipasi kepentingan masa depan.

“Pendidikan yang mampu mendukung pembangunan dimasa mendatang adalah pendidikan yang mampu mengembangkan potensi peserta didik, sehingga yang bersangkutan mampu menghadapi dan memecahkan problema kehidupan yang dihadapinya.”[14] Pendidikan harus menyentuh potensi nurani maupun potensi kompetensi peserta didik. Konsep pendidikan tersebut terasa semakin penting ketika seseorang harus memasuki kehidupan di masyarakat dan dunia kerja, karena yang bersangkutan harus mampu menerapkan apa yang dipelajari di sekolah untuk menghadapi problema yang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari saat ini maupun yang akan datang.

Dalam ketetapan MPR RI No. II/MPR/1983 tentang  Garis-garis Besar Haluan Negara dikemukakan bahwa: “Pendidikan Nasional bertujuan meningkatkan ketaqwaan Tuhan Yang Maha Esa, kecerdasan dan ketrampilan, mempertinggi budi pekerti, memperkuat kepribadian dan mempertebal semangat kebangsaan dan cinta tanah air agar dapat menumbuhkan manusia-manusia pembangunan yang dapat membangun dirinya sendiri serta bersama-sama bertanggungjawab atas pembangunan bangsa.”[15] Tujuan pendidikan nasional akan tercapai dengan baik apabila ada kerja sama antara pemerintah, lembaga sekolah, guru dan siswa serta lingkungan masyarakat.

“Sebagai pemerintah, baik pemerintah pusat maupun daerah agar mengarahkan, membimbing, membantu, dan mengawasi penyelenggaraan pendidikan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.”[16] Dan pemerintah juga memberikan layanan dan kemudahan, menjamin terselenggaranya pendidikan yang bermutu bagi setiap warga negara, serta menyediakan dana guna terselenggaranya pendidikan tersebut.

Sebagai lembaga sekolah (negeri/swasta) yang menjadi tempat terselenggaranya pendidikan tersebut memiliki tanggungjawab agar pendidikan itu terwujud. Dengan menyediakan sarana dan prasarana yang memadai, disiplin yang tinggi, guru yang professional serta biaya administrasi yang terjangkau.

Guru yang secara langsung berhadapan dengan siswa perlu memiliki kompetensi dan kepribadian yang baik. Kompetensi guru  (teacher competency) menurut Barlow, ialah “the ability of a teacher to responsibly perform has or her duties appropriately”. [17] Artinya, kompetensi guru merupakan kemampuan seorang guru dalam melaksanakan kewajiban-kewajibannya secara bertanggung jawab dan layak. Kemampuan guru dalam menjalankan profesi keguruannya yaitu mampu melaksanakan profesinya disebut sebagai guru yang kompeten dan professional.

Dalam pengertian yang sederhana, guru adalah orang yang memberikan ilmu pengetahuan kepada anak didik. Guru dalam pandangan masyarakat adalah orang yang melaksanakan pendidikan di tempat-tempat tertentu, tidak mesti di lembaga pendidikan formal, tetapi bisa juga di mesjid, surau/musalla, di rumah dan sebagainya.[18]

“RUU Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas) UU 2/1989 tentang “pendidikan agama” yang berbunyi: “setiap peserta didik pada setiap satu pendidikan berhak atas mendapatkan pendidikan agama sesuai dengan agama yang dianutnya, dan diajarkan oleh pendidik yang seagama” (13 ayat 1 A).”[19] Guru Pendidikan Agma Kristen adalah figur manusia yang menempati posisi dan memegang peranan penting dalam pendidikan. Ketika semua orang mempersoalkan masalah dunia pendidikan, figur guru PAK mesti dilibatkan dalam agenda pembicaraan terutama yang menyangkut persoalan pendidikan formal dan spiritual di sekolah. Hal itu tidak dapat disangkal, karena lembaga pendidikan formal adalah dunia kehidupan guru. Sebagian besar waktu guru ada di sekolah, sisanya ada di rumah dan masyarakat. “Guru sebagai figur sentral dalam dunia pendidikan, khususnya dalam proses belajar mengajar. Sehubungan dengan ini, setiap guru sangat diharapkan memiliki karakteristik (ciri khas) kepribadian yang ideal sesuai dengan persyaratan yang bersifat psikologis-pedagogis.”[20]

Peran guru adalah ganda, disamping ia sebagai pengajar sekaligus sebagai pendidik. Dalam rangka mengembangkan tugas atau peran gandanya maka oleh  Zakiah Daradjah disarankan agar guru memiliki persyaratan kepribadian sebagai guru yaitu:

Suka bekerja keras, demokratis, penyayang, menghargai kepribadian peserta didik, sabar, memiliki pengetahuan, ketrampilan dan pengalaman yang bermacam-macam, perawakan menyenangkan dan berkelakuan baik, adil dan tidak memihak, toleransi, mantap dan stabil, ada perhatian terhadap persoalan peserta didik, lincah, mampu memuji, perbuatan baik dan menghargai peserta didik, cukup dalam pengajaran, mampu memimpin secara baik.[21]

Untuk tercapainya tujuan tersebut, maka guru memegang peranan penting. Oleh sebab itu guru di sekolah tidak hanya sekedar mentransferkan sejumlah ilmu pengetahuan kepada murid-muridnya, tetapi lebih dari itu terutama dalam membina sikap dan ketrampilan mereka. Tugas guru tidak terbatas pada memberikan informasi kepada murid namun tugas guru lebih konprehensif dari itu. Selain mengajar dan membekali murid dengan pengetahuan, guru juga harus menyiapkan mereka agar mandiri dan memberdayakan bakat murid di berbagai bidang, mendisiplinkan moral mereka, membimbing hasrat dan menanamkan kebajikan dalam jiwa mereka. Guru harus menunjukkan semangat persaudaraan kepada murid serta membimbing mereka pada jalan kebenaran agar mereka tidak melakukan perbuatan yang menyimpang dari ajaran agama.

Tercapai tidaknya minat belajar siswa dipengaruhi oleh berbagai aspek kompetensi yang ada dalam guru (pengajar). Aspek-aspek komptensi guru tersebut antara lain: kompetensi pedagogik, kepribadian, profesional, dan sosial. Dalam konteks itu, maka kompetensi guru dapat diartikan sebagai kebulatan pengetahuan, keterampilan dan sikap yang diwujudkan dalam bentuk perangkat tindakan cerdas dan penuh tanggung jawab yang dimiliki seseorang guru untuk memangku jabatan guru sebagai profesi.

Kepribadian seorang guru mempunyai pengaruh yang besar dalam proses belajar mengajar. Pengaruh tersebut lebih dikenakan pada tujuan pembelajaran siswa karena hal itu erat kaitannya dengan guru yang bersangkutan. Kepribadian guru tersebut melibatkan hal seperti nilai, semangat bekerja, sifat atau karakteristik, dan tingkah laku.

Dalam mencapai minat belajar siswa yang baik tidak lepas dari Kompetensi kepribadian. Komptensi kepribadian adalah kemampuan kepribadian yang mantap, stabil, dewasa, arif, dan berwibawa, menjadi teladan bagi peserta didik dan berakhlak mulia. Subkompetensi mantap dan stabil memiliki indikator esensial yakni bertindak sesuai dengan hukum, bertindak sesuai dengan norma sosial, bangga menjadi guru dan memiliki konsistensi dalam bertindak dan bertutur.

Guru yang dewasa akan menampilkan kemandirian dalam bertindak dam memiliki etos kerja yang tinggi. Sementara itu, guru yang arif akan mampu melihat manfaat pembelajaran bagi peserta didik, sekolah dan masyarakat, menunjukkan sikap terbuka dalam berfkir dan bertindak. Berwibawa mengandung makna bahwa guru memiliki prilaku yang berpengaruh positif terhadap peserta didik dan perilaku yang disegani.

Yang paling utama dalam kepribadian guru adalah berakhlak mulia. Ia dapat menjadi teladan dan bertindak sesuai norma agama (iman, dan taqwa, jujur, ikhlas dan suka menolong serta memilki perilaku yang dapat dicontoh. Oleh setiap siswa. Sehingga minat siswa dlam belajar meningkat. Jadi kompetensi kepribadian guru memiliki pengaruh terhadap minat belajar siswa.

  1. B. BATASAN MASALAH

Agar pembahasan dalam penelitian ini tidak mengambang dan meluas, maka perlu adanya suatu pembatasan karena mengingat segala keterbatasan waktu, sarana dan tenaga. Suharsimi Arikunto menjelaskan bahwa : “Pembatasan ini diperlukan bukan saja untuk mempermudah dan menyederhanakan masalah bagi penyidik, tetapi juga untuk menetapkan lebih dulu segala sesuatu yang diperlukan untuk memecahkan yaitu tenaga, kecekatan, waktu serta ongkos yang timbul dalam rencana tersebut”.[22] Masalah dalam penelitian ini dibatasi pada kompetensi kepribadian guru Pendidikan Agama Kristen (X) merupakan variabel bebas, dan minat belajar siswa/I (Y) merupakan variabel terikat, sedangkan siswa/I SMK BM Pencawan Medan merupakan populasi dan tempat penelitian.

  1. C. RUMUSAN MASALAH

Perumusan masalah adalah suatu syarat penting untuk memecahkan suatu masalah, tanpa perumusan yang baik maka akan timbul kesulitan untuk mencari pemecahan. Hal ini sesuai dengan pendapat Thomas dan S. Nasution bahwa : ”Problem itu harus dibatasi dan dirumuskan secara spesifik dan merupakan syarat mutlak. Jikalau timbul bahaya mahasiswa dapat mengetahui dengan jelas keterangan apa yang akan dikumpulkan dan kesimpulan apakah yang akan diambil pada akhir tesis”.[23] Adapun rumusan masalahnya yaitu “Seberapa besar pengaruh yang signifikan dari kompetensi kepribadian guru PAK terhadap minat belajar siswa/i kelas XI SMK BM Pencawan Medan?

  1. D. TUJUAN PENELITIAN

Agar penelitian mencapai titik fokus dan memiliki arah yang jelas maka perlu adanya tujuan penelitian untuk menentukan langkah-langkah yang akan dilaksanakan dalam melakukan penelitian, karena tujuan penelitian merupakan kompas dalam perjalanan sebuah penelitian ilmiah. Seperti yang dikemukakan oleh Mohammad Ali bahwa : ”Ketajaman seseorang dalam merumuskan tujuan penelitian akan sangat mempengaruhi penelitian yang akan dilaksanakan, karena tujuan penelitian pada dasarnya merupakan titik tujuan yang akan dicapai seseorang melalui kegiatan penelitian, harus mempunyai rumus yang tegas jelas terperinci dan operasional.”[24]

Adapun yang menjadi tujuan penelitian ini adalah “Untuk mengetahui berapa besar pengaruh yang berarti/signifikan dari kompetensi kepribadian guru PAK terhadap minat belajar siswa/I kelas XI SMK BM Pencawan Medan”.

  1. E. KEGUNAAN  PENELITIAN

Segala kegiatan yang dilakukan secara sadar dan terencana tentunya mengharapkan adanya manfaat yang diperoleh dari kegiatan tersebut dan manfaat tersebut hendaknya berguna bagi semua pihak yang terkait didalamnya. Ny. Suharsimi Arikunto mengatakan : ”Bahwa mengadakan penelitian bukan dengan tujuan agar lebih mahir lagi meneliti, tetapi ingin menyumbangkan hasil yang diteliti untuk kemajuan ilmu pengetahuan, peningkatan efektivitas kerja dan keinginan untuk sesuatu. Dari hasil penelitian agar lebih berkembang dalam mengalami kemajuan”.[25]

Adapun manfaat dan kegunaan yang diharapkan dari penelitian ini adalah sebagai berikut:

  1. Teoritis:
  2. Untuk memperluas wawasan dan pengetahuan penulis sebagai seorang mahasiswa dalam rangka mengungkapkan suatu masalah serta penyelesaiannya.
  3. Bermanfaat untuk mengetahui pengaruh kompetensi kepribadian guru PAK terhadap minat belajar siswa/I.
    1. Praktis;
    2. Untuk mengoreksi diri bagi guru, apakah sudah memiliki pandangan yang benar mengenai kompetensi kepribadian.
    3. Sebagai bahan masukan dan bahan perbandingan bagi peneliti lainnya, khususnya jurusan PAK.

BAB II

KAJIAN PUSTAKA, KERANGKA BERPIKIR

DAN HIPOTESIS

  1. A. KAJIAN PUSTAKA
    1. 1. KOMPETENSI KEPRIBADIAN GURU PAK
      1. a. Pengertian Kompetensi Kepribadian

Kompetensi. Kompetensi diartikan sebagai kemampuan, maka kompetensi guru adalah kemampuan seorang tenaga pengajar atau tenaga pendidik dalam menjalankan tugasnya. Sudarwan menyatakan : ”Kompetensi artinya kewenangan, kecakapan ataupun kemampuan. Disini lebih tepat kalau kompetensi diartikan dengan kemampuan”.[26] Echols & Shadily dalam Suwardi (2007:3), menyatakan bahwa: “kata kompetensi berasal dari Bahasa Inggris competency sebagai kata benda competence yang berarti kecakapan, kompetensi, dan kewenangan”.

Suharsimi mengemukakan bahwa : ”Konsep kompetensi tidak sekedar perbuatan yang tampak dan dapat dilihat, akan tetapi kompetensi juga berkaitan dengan potensi-potensi untuk melakukan tindakan. Misalnya, pengetahuan merupakan potensi yang mendukung tindakan.[27]

Seseorang yang memiliki pengetahuan yang banyak cenderung akan menampilkan tindakan yang berbeda dengan orang yang memiliki pengetahuan kurang”. Usman mengemukakan kompentensi berarti suatu hal yang menggambarkan kualifikasi atau kemampuan seseorang, baik yang kualitatif maupun yang kuantitatif.[28] McAhsan, sebagaimana dikutip oleh Mulyasa (2003:38) mengemukakan bahwa kompetensi: “…is a knowledge, skills, and abilities or capabilities that a person achieves, which become part of his or her being to the extent he or she can satisfactorily perform particular cognitive, affective, and psychomotor behaviors”.[29]

Dalam hal ini, kompetensi diartikan sebagai pengetahuan, keterampilan, dan kemampuan yang dikuasai oleh seseorang yang telah menjadi bagian dari dirinya, sehingga ia dapat melakukan perilaku-perilaku kognitif, afektif, dan psikomotorik dengan sebaik-baiknya.

Sejalan dengan itu Finch & Crunkilton (1979:222), sebagaimana dikutip oleh Mulyasa mengartikan kompetensi sebagai penguasaan terhadap suatu tugas, keterampilan, sikap, dan apresiasi yang diperlukan untuk menunjang keberhasilan. Sofo (1999:123) mengemukakan “A competency is composed of skill, knowledge, and attitude, but in particular the consistent applications of those skill, knowledge, and attitude to the standard of performance required in employment”. Dengan kata lain kompetensi tidak hanya mengandung pengetahuan, keterampilan dan sikap, namun yang penting adalah penerapan dari pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang diperlukan tersebut dalam pekerjaan.

Sedangkan menurut Syah “kompetensi” adalah kemampuan, kecakapan, keadaan berwenang, atau memenuhi syarat menurut ketentuan hukum.[30]

Dalam Panduan Sertifikasi Guru bagi LPTK Tahun 2006 yang dikeluarkan Direktur Ketenagaan Dirjen Dikti Depdiknas disebutkan bahwa kompetensi merupakan kebulatan penguasaan pengetahuan, keterampilan dan sikap yang ditampilkan melalui unjuk kerja.

Kepmendiknas No. 045/U/2002 menyebutkan kompetensi sebagai seperangkat tindakan cerdas dan penuh tanggungjawab dalam melaksanakan tugas-tugas sesuai dengan pekerjaan tertentu. Jadi kompetensi guru dapat dimaknai sebagai kebulatan pengetahuan, keterampilan dan sikap yang berwujud tindakan cerdas dan penuh tanggungjawab dalam melaksanakan tugas sebagai agen pembelajaran.

Berdasarkan uraian di atas, maka kompetensi guru berarti suatu kemampuan guru dalam melaksanakan tugas-tugasnya sebagai agen pembelajaran, dengan memiliki pengetahuan yang luas serta kewenangan dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran dengan berkualitas, sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai.

Kepribadian. Kepribadian ialah kumpulan sifat-sifat yang aqliah, jismiah, khalqiyah dan iradiah yang biasa membedakan seseorang dengan orang lain.[31] Sehingga kompetensi kepribadian guru adalah kemampuan kepribadian yang mantap, stabil, dewasa, arif, dan berwibawa, menjadi teladan bagi peserta didik dan berakhlak mulia. Subkompetensi mantap dan stabil memiliki indicator esensial yakni bertindak sesuai dengan hokum, bertindak sesuai dengan norma sosial, bangga menjadi guru dan memiliki konsistensi dalam bertindak dan bertutur.

Kemudian, Undang-undang Republik Indonesia No. 14 tahun 2005 tentang guru dan dosen pasal 10 : 1 dikemukakan kompetensi kepribadian adalah “kemampuan kepribadian yang mantap, berakhlak mulia, arif, dan berwibawa serta menjadi teladan peserta didik”[32]. Sedangkan Muhibbin Syah menyebut “Kompetensi kepribadian ini sebagai kompetensi personal, yaitu kemampuan pribadi seorang guru yang diperlukan agar dapat menjadi guru yang baik. Kompetensi personal ini mencakup kemampuan pribadi yang berkenaan dengan pemahaman diri, penerimaan diri, pengarahan diri, dan perwujudan diri.”[33]

Johnson sebagaimana dikutip Anwar mengemukakan “Kemampuan personal guru, mencakup (1) penampilan sikap yang positif terhadap keseluruhan tugasnya sebagai guru, dan terhadap keseluruhan situasi pendidikan beserta unsur-unsurnya, (2) pemahaman, penghayatan dan penampilan nilai-nilai yang seyogianya dianut oleh seorang guru, (3) kepribadian, nilai, sikap hidup ditampilkan dalam upaya untuk menjadikan dirinya sebagai panutan dan teladan bagi para siswanya”. [34]

Arikunto mengemukakan “Kompetensi personal mengharuskan guru memiliki kepribadian yang mantap sehingga menjadi sumber inspirasi bagi subyek didik, dan patut diteladani oleh siswa”.[35]

Dengan melihat akan pendapat para ahli tentang pengertian kompetensi kepribadian, disimpulkan bahwa kompetensi kepribadian merupakan kemampuan personal yang mencerminkan kepribadian yang mantap, stabil, dewasa, arif, dan berwibawa, menjadi teladan bagi peserta didik, dan berakhlak mulia. Sebagaimana lazimnya seorang guru, maka guru PAK juga harus memiliki kompetensi kepribadian seperti yang dimaksud di atas. Dengan kata lain kompetensi kepribadian guru adalah kompetensi personal seorang guru , yaitu kemampuan pribadi seorang guru yang diperlukan agar dapat menjadi guru yang baik. Kompetensi personal ini mencakup kemampuan pribadi yang berkenaan dengan pemahaman diri, penerimaan diri, pengarahan diri, dan perwujudan diri.

  1. b. Aspek Kompetensi Kepribadian Guru PAK

Guru sebagai tenaga pendidik yang tugas utamanya mengajar, memiliki karakteristik kepribadian yang sangat berpengaruh terhadap keberhasilan pengembangan sumber daya manusia.

Pribadi guru adalah hal yang sangat penting. Seorang guru harus memiliki sikap yang mempribadi sehingga dapat dibedakan ia dengan guru yang lain. Memang, kepribadian menurut Zakiah Darajat disebut sebagai sesuatu yang abstrak, sukar dilihat secara nyata, hanya dapat diketahui lewat penampilan, tindakan, dan atau ucapan ketika menghadapi suatu persoalan, atau melalui atasannya saja.[36]

Kepribadian mencakup semua unsur, baik fisik maupun psikis. Sehingga dapat diketahui bahwa setiap tindakan dan tingkah laku seseorang merupakan cerminan dari kepribadian seseorang, selama hal tersebut dilakukan dengan penuh kesadaran. Setiap perkataan, tindakan, dan tingkah laku positif akan meningkatkan citra diri dan kepribadian seseorang. Begitu naik kepribadian seseorang maka akan naik pula wibawa orang tersebut.

Dalam Standar Nasional Pendidikan, pasal 28 ayat (3) butir b dikemukakan bahwa kompetensi kepribadian adalah kemampuan yang mencerminkan kepribadian yang mantap, stabil, dewasa, arif dan berwibawa, serta menjadi teladan bagi peserta didik dan berakhlak mulia.

1) Kepribadian yang mantap, stabil

Dalam hal ini untuk menjadi seseorang guru harus memiliki kepribadian yang mantap, stabil. Ini penting karena banyak masalah pendidikan yang disebabkan oleh faktor kepribadian guru yang kurang mantap dan kurang stabil. Kepribadian yang mantap dari sosok seorang guru akan memberikan teladan yang baik terhadap anak didik maupun masyarakatnya, sehingga guru akan tampil sebagai sosok yang patut “digugu” (ditaati nasehat/ucapan/perintahnya) dan “ditiru” (di contoh sikap dan perilakunya). Oleh sebab itu, sebagai seorang guru, seharusnya:

  1. Bertindak sesuai dengan norma hukum
  2. Bertindak sesuai dengan norma social
  3. Bangga sebagai guru
  4. Memiliki konsistensi dalam bertindak sesuai dengan norma

Dalam kaitan ini, Zakiah Darajat dalam Syah menegaskan bahwa kepribadian itulah yang akan menentukan apakah ia menjadi pendidik dan pembina yang baik bagi anak didiknya, ataukah akan menjadi perusak atau penghancur bagi masa depan anak didiknya terutama bagi anak didik yang masih kecil (tingkat dasar) dan mereka yang sedang mengalami kegoncangan jiwa (tingkat menengah).[37]

2) Kepribadian yang dewasa

Sebagai seorang guru, kita harus memiliki kepribadian yang dewasa karena terkadang banyak masalah pendidikan yang muncul yang disebabkan oleh kurang dewasanya seorang guru. Kondisi kepribadian yang demikian sering membuat guru melakukan tindakan – tindakan yang tidak profesional, tidak terpuji, bahkan tindakan– tindakan tidak senonoh yang merusak citra dan martabat guru.

Ujian berat bagi setiap guru dalam hal kepribadian ini adalah rangsangan yang sering memancing emosinya. Kestabilan emosi sangat diperlukan, namun tidak semua orang mampu menahan emosi terhadap rangsangan yang menyinggung perasaan. Sehingga, sebagai seorang guru, seharusnya:

  1. Menampilkan kemandirian dalam bertindak sebagai pendidik

Artinya, kepribadian akan turut menetukan apakah para guru dapat disebut sebagai pendidik yang baik atau sebaliknya, justru menjadi perusak anak didiknya. Sikap dan citra negative seorang guru dan berbagai penyebabnya seharusnya dihindari jauh-jauh agar tidak mencemarkan nama baik guru.

  1. Memiliki etos kerja sebagai guru

Cara mengajar guru dalam meyampaikan ilmu pengetahuan dalam setiap pertemuan dengan peserta didik membuktikan apakah guru layak disebut sebagai pribadi yang professional sesuai dengan kode etik yang dipahaminya sebagai tenaga pendidik.

3) Kepribadian yang arif

Sebagai seorang guru kita harus memiliki pribadi yang disiplin dan arif. Hal ini penting, karena masih sering kita melihat dan mendengar peserta didik yang perilakunya tidak sesuai bahkan bertentangan dengan sikap moral yang baik. Oleh karena itu peserta didik harus belajar disiplin, dan gurulah yang harus memulainya. Dalam menanamkan disiplin, guru bertanggung jawab mengarahkan, berbuat baik, menjadi contoh sabar dan penuh pengertian. Mendisiplinkan peserta didik harus dilakukan dengan rasa kasih sayang dan tugas guru dalam pembelajaran tidak terbatas pada penyampaian materi, tetapi guru harus dapat membentuk kompetensi dan pribadi peserta didik. Sehingga, sebagai seorang guru kita harus menampilkan tindakan yang didasarkan pada kemanfaatan peserta didik, sekolah, dan masyarakat. Artinya, sebagai seorang guru, kita juga bertindak sebagai pendidik dan murid sebagai anak didik sehingga dapat saja dipisahkan kedudukannya, akan tetapi mereka tidak dapat dipisahkan dalam mengembangkan diri murid dalam mencapai cita-citanya. Dengan kata lain, disinilah kemanfaatan guru bagi orang lain atau murid benar-benar dituntut untuk menunjukkan keterbukaan dalam berpikir dan bertindak

4) Kepribadian yang berwibawa

Berwibawa mengandung makna bahwa seorang guru harus:

  1. Memiliki perilaku yang berpengaruh positif terhadap peserta didik.

Artinya, guru harus selalu berusaha memilih dan melakukan perbuatan yang positif agar dapat mengangkat citra baik dan kewibawaannya, terutama di depan murid-muridnya. Disamping itu guru juga harus mengimplementasikan nilai-nilai tinggi terutama yang diambilkan dari ajaran agama, misalnya jujur dalam perbuatan dan perkataan, tidak munafik. Sekali saja guru didapati berbohong, apalagi langsung kepada muridnya, niscaya hal tersebut akan menghancurkan nama baik dan kewibawaan sang guru, yang pada gilirannya akan berakibat fatal dalam melanjutkan tugas proses belajar mengajar.

  1. Memiliki perilaku yang disegani

Artinya, pribadi guru dipandang sebagai seorang yang menunjukkan integritas dan kredibilitas yang tinggi di lingkungan pendidikan terutama di hadapan peserta didik.

5) Menjadi berakhlak mulia dan teladan bagi peserta didik

Guru PAK harus berakhlak mulia, karena guru adalah seorang penasehat bagi peserta didik, bahkan bagi para orang tua. Dengan berakhlak mulia, dalam keadaan bagaimanapun guru harus memiliki rasa percaya diri, hikmat dan tidak tergoyahkan.

Kompetensi kepribadian guru yang dilandasi dengan akhlak mulia tentu saja tidak tumbuh dengan sendirinya, tetapi memerlukan ikhtiar, yakni usaha sungguh – sungguh, kerja keras, tanpa mengenal lelah dan dengan niat ibadah tentunya. Dalam hal inni, guru harus merapatkan kembali barisannya, meluruskan niatnya, bahkan menjadi guru bukan semata – mata untuk kepentingan duniawi. Memperbaiki ikhtiar terutama berkaitan dengan kompetensi pribadinya, dengan tetap beriman kepada Allah. Melalui guru yang demikianlah, kita berharap pendidikan menjadi ajang pembentukan karakter bangsa.

Untuk menjadi teladan bagi peserta didik, tentu saja pribadi dan apa yang dilakukan oleh seorang guru akan mendapat sorotan peserta didik serta orang disekitar lingkungannya yang menganggap atau mengakuinya sebagai guru.

  1. Bertindak sesuai dengan norma religius (iman, jujur, ikhlas, suka menolong)
  2. Memiliki perilaku yang diteladani peserta didik

Artinya, guru sebagai teladan bagi murid-muridnya harus memiliki sikap dan kepribadian utuh yang dapat dijadikan tokoh panutan idola dalam seluruh segi kehidupannya.

Gumelar dan Dahyat (2002:127) merujuk pada pendapat Asian Institut for Teacher Education, mengemukakan kompetensi pribadi meliputi:

  1. pengetahuan tentang adat istiadat baik sosial maupun agama,
  2. pengetahuan tentang budaya dan tradisi
  3. pengetahuan tentang inti demokrasi,
  4. pengetahuan tentang estetika,
  5. memiliki apresiasi dan kesadaran sosial,
  6. memiliki sikap yang benar terhadap pengetahuan dan pekerjaan,
  7. setia terhadap harkat dan martabat manusia.

Sedangkan kompetensi guru secara lebih khusus lagi adalah bersikap empati, terbuka, berwibawa, bertanggung jawab dan mampu menilai diri pribadi.

Johnson sebagaimana dikutip Anwar mengemukakan kemampuan personal guru, mencakup :

  1. penampilan sikap yang positif terhadap keseluruhan tugasnya sebagai guru, dan terhadap keseluruhan situasi pendidikan beserta unsur-unsurnya,
  2. pemahaman, penghayatan dan penampilan nilai-nilai yang seyogyanya dianut oleh seorang guru,
  3. kepribadian, nilai, sikap hidup ditampilkan dalam upaya untuk menjadikan dirinya sebagai panutan dan teladan bagi para siswanya.[38]

Esensi kompetensi kepribadian guru semuanya bermuara ke dalam intern pribadi guru. Kompetensi pedagogik, profesional dan sosial yang dimiliki seorang guru dalam melaksanakan pembelajaran, pada akhirnya akan lebih banyak ditentukan oleh kompetensi kepribadian yang dimilikinya. Tampilan kepribadian guru akan lebih banyak memengaruhi minat dan antusiasme anak dalam mengikuti kegiatan pembelajaran. Pribadi guru yang santun, respek terhadap siswa, jujur, ikhlas dan dapat diteladani, mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap keberhasilan dalam pembelajaran apa pun jenis mata pelajarannya.

Dalam kaitan ini, Zakiah Darajat dalam Syah menegaskan bahwa kepribadian itulah yang akan menentukan apakah ia menjadi pendidik dan pembina yang baik bagi anak didiknya, ataukah akan menjadi perusak atau penghancur bagi masa depan anak didiknya terutama bagi anak didik yang masih kecil (tingkat dasar) dan mereka yang sedang mengalami kegoncangan jiwa (tingkat menengah).[39] Karakteristik kepribadian yang berkaitan dengan keberhasilan guru dalam menggeluti profesinya adalah meliputi fleksibilitas kognitif dan keterbukaan psikologis. Fleksibilitas kognitif atau keluwesan ranah cipta merupakan kemampuan berpikir yang diikuti dengan tindakan secara simultan dan memadai dalam situasi tertentu. Guru yang fleksibel pada umumnya ditandai dengan adanya keterbukaan berpikir dan beradaptasi. Selain itu, ia memiliki resistensi atau daya tahan terhadap ketertutupan ranah cipta yang prematur dalam pengamatan dan pengenalan.

Berdasarkan uraian di atas, kompetensi kepribadian guru tercermin dari indikator (1) sikap, dan (2) keteladanan yang ditunjukkan oleh seorang guru.

  1. c. Karakteristik Kepribadian Guru PAK

Menurut Samani karakteristik atau ciri khas kepribadian guru yang berkaitan dengan keberhasilan dalam menggeluti profesinya adalah meliputi fleksibilitas dan keterbukaan psikologis.

1)      Fleksibilitas Kognitif Guru

Fleksibilitas kognitif atau keluwesan ranaha cipta merupakan kemampuan berpikir yang diikuti dengan tindakan secara simultan dan memadai dalam situasi tertentu. Kebailkannya adalah frigiditas kognitif atau kelemahan ranah cipta yang ditandai dengan kekurangmampuan berpikir dan bertindak yang sesuai dengan situasi yang sedang dihadapi.

Guru yang fleksibel pada umumnya ditandai dengan keterbukaan berpikir dan beradaptasi. Juga memiliki resistensi atau daya tahan terhadap ketertutupan ranah cipta yang prematur (terlampau dini) dalam pengamatan dan pengenalan. Dalam setiap mengamati dan mengenali sesuatu objek atau situasi tertentu, seorang guru yang fleksibel selalu berpikir kritis (critical thinking). Berpikir kritis adalah berfikir dengan penuh pertimbangan akal sehat (rational reflective) yang dipusatkan pada pengambilan keputusan untuk mempercayai atau mengingkari sesuatu dan melakukan atau menghindari sesuatu.[40]

Dalam metodologi pembelajaran, fleksibilitas kognitif guru teridiri dari tiga dimensi yaitu:

a)      Dimensi karakteristik pribadi guru

b)      Dimensi sikap kognitif guru terhadap peserta didik

c)      Dimensi sikap kognitif guru terhadap materi pelajaran dan metode mengajar

2)      Keterbukaan Psikologis Pribadi Guru

Karakteristik kepribadian guru yang lain adalah keterbukaan psikologis yang turut menentukan keberhasilan seorang guru yang profesional, oleh karena karakteristik kepribadian ini juga merupakan dasar kompetensi profesional guru Keterbukaan psikologis juga sebagai suatu konsep kontinum, yaitu rangkaian kesatuan yang bermula dari titik keterbukaan psikologi sampai sebaliknya, ketertutupan psikologis.

Posisi guru dalam kontinum tersebut ditentukan oleh kemampuannya dalam menggunakan pengalamannya sendiri dalam hal keinginan, berfantasi, dan berperasaan untuk menyesuaikan diri. Jika kemampuan dan keterampilan dalam menyesuaikan diri makin besar, maka berarti makin dekat pada kutub keterbukaan psikologis atau makin cakap menyesuaikan diri maka guru makin lebih memiliki keterbukaan diri.

Guru yang terbuka secara psikologis biasanya ditandai dengan:

a)      Kesediaan yang relatif tinggi untuk mengkomunikasikan dirinya dengan faktor-faktor ekstern, seperti peserta didik, teman sejawat, dan lingkungan pendidikan tempatnya bekerja

b)      Kesediaan menerima kritik dengan ikhlas

c)      Memiliki empati, yakni respon afektif terhadap pengalaman emosional dan perasaan tertentu orang lain

d)     Ditinjau dari fungsi dan signifikansinya, sebagai pengarah dalam pembelajaran selain sebagai panutan peserta didik.[41]

Sisi positif karakteristik kepribadian keterbukaan psikologis ini antara lain:

a)      Keterbukaan psikologis merupakan prakondisi atau prasyarat penting yang perlu dimiliki guru untuk memahami pikiran dan perasaan orang lain

b)      Keterbukaan psikologis diperlukan untuk menciptakan suasana hubungan antar pribadi guru dan peserta didik yang harmonis, sehingga mendorong peserta didik untuk mengembangkan dirinya secara bebas.[42]

Dari uraian di atas dapat dikemukakan bahwa karakteristik yang kepribadian yang dimiliki guru mencakup kemampuan personal guru, mencakup (1) penampilan sikap yang positif terhadap keseluruhan tugasnya sebagai guru, dan terhadap keseluruhan situasi pendidikan beserta unsur-unsurnya, (2) pemahaman, penghayatan dan penampilan nilai-nilai yang seyogyanya dianut oleh seorang guru, (3) kepribadian, nilai, sikap hidup ditampilkan dalam upaya untuk menjadikan dirinya sebagai panutan dan teladan bagi para siswanya.

  1. d. Landasan Teologis Kompetensi Kepribadian Guru PAK

Guru memiliki peran yang amat penting dalam kehidupan mendidik siswa. Guru menjadi pemandu dalam upaya untuk mewujudkan suatu kehidupan yang bermakna, damai dan bermartabat. Menyadari peran guru amat penting bagi kehidupan siswa maka internalisasi guru dalam kehidupan setiap siswa menjadi sebuah keniscayaan, yang ditempuh melalui pendidikan di sekolah. Pendidikan dimaksudkan untuk peningkatan potensi spritual dan membentuk peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berakhlak mulia. Akhlak mulia mencakup etika, budi pekerti, dan moral sebagai perwujudan dari pendidikan agama. Peningkatan potensi spritual mencakup pengenalan, pemahaman, dan penanaman nilai-nilai keagamaan, serta pengamalan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan individual ataupun kolektif kemasyarakatan. Peningkatan potensi spritual tersebut pada akhirnya bertujuan pada optimalisasi berbagai potensi yang dimiliki manusia yang aktualisasinya mencerminkan harkat dan martabatnya sebagai makhluk Tuhan.

Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar Pendidikan Agama Kristen bukanlah “standar moral” Kristen yang ditetapkan untuk mengikat peserta didik, melainkan dampingan dan bimbingan bagi peserta didik dalam melakukan perjumpaan dengan Tuhan Allah untuk mengekspresikan hasil perjumpaan itu dalam kehidupan sehari-hari. Sehingga lewat kepribadian guru PAK peserta didik belajar memahami, mengenal dan bergaul dengan Tuhan Allah secara akrab karena seungguhnya Tuhan Allah itu ada dan selalu ada dan berkarya dalam hidup mereka. Usaha yang dilakukan secara terencana dan kontinu dalam rangka mengembangkan kemampuan peserta didik agar dengan pertolongan Roh Kudus dapat memahami dan menghayati kasih Tuhan Allah di dalam Yesus Kristus yang dinyatakan dalam kehidupan sehari-hari, terhadap sesama dan lingkungan hidupnya.

Dengan demikian, setiap siswa yang terlibat dalam proses pembelajaran PAK memiliki keterpanggilan untuk mewujudkan tanda-tanda Kerajaan Allah dalam kehidupan pribadi maupun sebagai bagian dari komunitas.

  1. e. Fungsi Kompetensi Kepribadian Guru PAK

Guru sering dianggap sebagai sosok yang memiliki kepribadian ideal. Jadi, Kompetensi kepribadian guru PAK berfungsi sebagai model atau panutan (yang harus digugu dan ditiru).

Sebagai seorang model guru harus memiliki kompetensi yang berhubungan dengan pengembangan kepribadian (personal competencies), di antaranya:

1)      Kemampuan yang berhubungan dengan pengalaman ajaran agama sesuai dengan keyakinan agama yang dianutnya;

2)      Kemampuan untuk menghormati dan menghargai antar umat beragama;

3)      Kemampuan untuk berperilaku sesuai dengan norma, aturan, dan sistem nilai yang berlaku di masyarakat;

4)      Mengembangkan sifat-sifat terpuji sebagai seorang guru misalnya sopan santun dan tata krama dan;

5)      Bersikap demokratis dan terbuka terhadap pembaruan dan kritik.

  1. 2. MINAT BELAJAR PAK
    1. a. Pengertian Minat Belajar

Minat adalah kecendrungan yang tetap untuk memperhatikan dan mengenang berberapa kegiatan. Kegiatan yang diminati seseorang, diperhatikan terus-menerus yang disertai dengan rasa senang. Minat besar pengaruhnya terhadap belajar, karena bila bahan pelajaran yang dipelajari tidak sesuai dengan minat siswa, siswa tidak akan belajar dengan sebaik-baiknya, karena tidak ada daya tarik baginya. Ia segan-segan untuk belajar, ia tidak memperoleh kepuasan dari pelajaran itu. Bahan pelajaran yang menarik siswa, lebih mudah dipelajari dan disimpan, karena minat menambah kegiatan belajar.

Minat adalah kecenderungan jiwa yang tetap untuk memperhatikan dan mengenang beberapa aktivitas atau kegiatan.[43] Seseorang yang berminat terhadap suatu aktivitas dan memperhatikan itu secara konsisten dengan rasa senang. Menurut Kartono,, minat merupakan moment-moment dari kecenderungan jiwa yang terarah secara intensif kepada suatu obyek yang dianggap paling efektif (perasaan, emosional) yang didalamnya terdapat elemen-elemen efektif (emosi) yang kuat. Minat juga berkaitan dengan kepribadian.[44] Jadi pada minat terdapat unsur-unsur pengenalan (kognitif), emosi (afektif), dan kemampuan (konatif) untuk mencapai suatu objek, seseorang suatu soal atau suatu situasi yang bersangkutan dengan diri pribadi

Minat juga merupakan kecenderungan hati yang tinggi terhadap sesuatu yang timbul karena kebutuhan, yang dirasa atau tidak dirasakan atau keinginan hal tertentu. Minat dapat diartikan kecenderungan untuk dapat tertarik atau terdorong untuk memperhatikan seseorang sesuatu barang atau kegiatan dalam bidang-bidang tertentu.

Minat dapat menjadi sebab sesuatu kegiatan dan sebagai hasil dari keikutsertaan dalam suatu kegiatan. Karena itu minat belajar adalah kecenderungan hati untuk belajar untuk mendapatkan informasi, pengetahuan, kecakapan melalui usaha, pengajaran atau pengalaman

Menurut Gie, minat berarti sibuk, tertarik, atau terlihat sepenuhnya dengan sesuatu kegiatan karena menyadari pentingnya kegiatan itu.[45] Dengan demikian, minat belajar adalah keterlibatan sepenuhnya seorang siswa dengan segenap kegiatan pikiran secara penuh perhatian untuk memperoleh pengetahuan dan mencapai pemahaman tentang pengetahuan ilmiah yang dituntutnya di sekolah.

Minat besar pengaruhnya terhadap aktivitas belajar. Siswa yang berminat terhadap Pendidikan Agama Kristen (PAK) akan  mempelajari Pendidikan Agama Kristen (PAK) dengan sungguh-sungguh seperti rajin belajar, merasa senang mengikuti penyajian pelajaran PAK, dan bahkan dapat menemukan kesulitan–kesulitan dalam belajar menyelesaikan soal-soal latihan dan praktikum karena adanya daya tarik yang diperoleh dengan mempelajari PAK. Siswa akan mudah menghafal pelajaran yang menarik minatnya. Minat berhubungan erat dengan motivasi. Motivasi muncul karena adanya kebutuhan, begitu juga minat, sehingga tepatlah bila minat merupakan alat motivasi. Proses belajar akan berjalan lancar bila disertai minat. Oleh karena itu, guru perlu membangkitkan minat siswa agar pelajaran yang diberikan mudah siswa mengerti.

Kondisi kejiwaan sangat dibutuhkan dalam proses belajar mengajar. Itu berarti bahwa minat sebagai suatu aspek kejiwaan melahirkan daya tarik tersendiri untuk memperhatikan suatu obyek tertentu.

Berdasarkan hasil penelitian psikologi menunjukkan bahwa kurangnya minat belajar dapat mengakibatkan kurangnya rasa ketertarikan pada suatu bidang tertentu, bahkan dapat melahirkan sikap penolakan kepada guru

Minat merupakan salah satu faktor pokok untuk meraih sukses dalam studi. Penelitian-penelitian di Amerika Serikat mengenai salah satu sebab utama dari kegagalan studi para pelajar menunjukkan bahwa penyebabnya adalah kekurangan minat

Menurut Gie, arti penting minat dalam kaitannya dengan pelaksanaan studi adalah:

  1. Minat melahirkan perhatian yang serta merta.
  2. Minat memudahnya terciptanya konsentrasi.
  3. Minat mencegah gangguan dari luar
  4. Minat memperkuat melekatnya bahan pelajaran dalam ingatan.
  5. Minat memperkecil kebosanan belajar dalam diri sendiri.[46]

Minat melahirkan perhatian spontan yang memungkinkan terciptanya konsentrasi untuk waktu yang lama dengan demikian, minat merupakan landasan bagi konsentrasi. Minat bersifat sangat pribadi, orang lain tidak bisa menumbuhkannya dalam diri siswa, tidak dapat memelihara dan mengembangkan minat itu, serta tidak mungkin berminat terhadap sesuatu hal sebagai wakil dari masing-masing siswa.

Minat dan perhatian dalam belajar mempunyai hubungan yang erat sekali. Seseorang yang menaruh minat pada mata pelajaran tertentu, biasanya cenderung untuk memperhatikan mata pelajaran tersebut. Sebaliknya, bila seseorang menaruh perhatian secara kontinyu baik secara sadar maupun tidak pada objek tertentu, biasanya dapat membangkitkan minat pada objek tersebut.

Kalau seorang siswa mempunyai minat pada pelajaran tertentu dia akan memperhatikannya. Namun sebaliknya jika siswa tidak berminat, maka perhatian pada mata pelajaran yang sedang diajarkan biasanya dia malas untuk mengerjakannya. Demikian juga dengan siswa yang tidak menaruh perhatian yang pada mata pelajaran yang diajarkan, maka sukarlah diharapkan siswa tersebut dapat belajar dengan baik. Hal ini tentu mempengaruhi hasil belajarnya.

Suatu minat dapat diekspresikan melalui suatu pernyataan yang menunjukkan bahwa siswa lebih menyukai suatu hal daripada hal lainnya, dapat pula dimanifestasikan melalui partisipasi dalam suatu aktivitas. Siswa yang memiliki minat terhadap subjek tertentu cenderung untuk memberikan perhatian yang lebih besar terhadap subjek tersebut. Setiap orang tentunya mempunyai pengalaman-pengalaman sebagai hasil interaksinya terhadap lingkungannya, yang menghantarnya pada suatu cita-cita tertentu. Inilah yang akan menyebabkan seseorang melakukan aktivitasnya tertentu. Ia bukan hanya melihat sekilas saja, melainkan dengan perhatian dan dorongan-dorongan dalam pencapaian tujuan itu. Dalam hal ini tentunya minat mempunyai peranan yang cukup besar dan mempengaruhi seseorang untuk menentukan kegiatan apa yang harus ia lakukan.

Untuk lebih jelas tentang minat yang dimaksud, Bimo Walgito memberi pengertian sebagai berikut :”Minat adalah suatu keadaan, dimana seseorang mempunyai perhatian terhadap objek, dan disertai dengan keinginan untuk mengetahui dan mempelajari maupun membuktikannya, lebih lanjut kecendrungan untuk erhubungan lebih aktif terhadap objek.”[47]

Berkaitan dengan pendapat di atas, Kartini Kartono dalam bukunya Teori Kepribadian, mengatakan bahwa :”Minat adalah merupakan momen dan kecendrungan-kecendrungan yang terarah secara intensif kepada objek yang dianggap penting.”[48]Pendapat ini dipertegas oleh Poerbawatja Suganda mengatakan :”Minat adalah kesediaan jiwa yang siftnya aktif untuk menerima sesuatu dari luar.”[49]

Dari keterangan di atas, dapat dipahami bahwa minat adalah kecendrungan bertingkah laku, karena ia merasa tertarik oleh sesuatu aktivitas tertentu. Rasa tertarik ini menunjukan bahwa seseorang menaruh perhatian dan usaha untuk mendapatkan objek yang sesuai dengan minatnya. Dalam Markus 12 : 37 berkata :”Daud sendiri menyebut Dia tuannya, bagaimana mungkin Ia anak-Nya pula? Orang banyak yang besar jumlahnya mendengarkan Dia dengan penuh minat.” Dalam nats ini dikatakan bagaimana hubungan antara Daud dengan Yesus dan hal ini membuat semua orang tertarik untuk mendengarkan. Dengan kata lain, apabila seseorang menaruh minat terhadap sesuatu, maka minatnya akan menjadi pendorong yang kuat untuk berhubungan lebih aktif dengan objek yang menarik perhatiannya. Bila kebutuhan tersebut dapat dipenuhi, maka terjdilah kepuasan, sedangkan kepuasan itu akan memberi kesenangan.

Dari penjelasan di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa di dalam minat terkandung tiga unsur penting, yakni:

  • Adanya kesediaan jiwa untuk menrima sesuatu.
  • Adanya keinginan untuk bertindak atau berbuat.
  • Adanya kecendrungan melakukan sesuatu perbuatan.

Ketiga unsur ini saling mempengaruhi antar satu dengan yang lainnya. Kesediaan jiwa untuk menerima sesuatu dari luar, dipenaruhi oleh ada tidaknya unsur rasa tertarik atau kesenangan. Bila dalam unsur tersebut tidak terdapat kesediaan jiwa untuk menerima, akibatnya tidak menimbulkan kecenderungan untuk melakukan aktivitas. Minat seseorang tidak terbentuk secara tiba-tiba dan otomatis, melainkan terbentuk melalui adanya suatu proses interaksi dengan lingkungannya. Di dalam interaksi tersebut, terjadi perubahan tingkah laku yang dipengaruhi oleh nilai-nilai dan pandangna hidupnya.

Minat sangat mempengaruhi proses belajar. Aktif, pasifnya si anak didik dalam proses belajar mengajar salah satu faktornya tergeantung pada ada tidaknya minat belajar anak. Tanpa minat belajar, maka aktivitas belajar kemungkinan dapat menjadi rendah dan sebaliknya. Dengan adanya minat terhadap pelajaran tersebut, aktivitas belajar mereka menjadi tinggi. Kurangnya minat juga mengakibatkan kurangnya identitas kegiatan dan tidaklah heran jika seseorang tidak akan memperhatikan terhadap suatu aktivitas. Minat merupakan keinginan, kemauan. Menurut Poerdaminta dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia, mengatakan bahwa :”Minat merupakan perhatian atau lebih jelas lagi minat adalah kesukaan (kecendrungan hati) pada sesuatu.”[50]

Menurut Soegarda Poerbawaki dalam bukunya Ensiklopedia Pendidikan, mengatakan bahwa :”Minat adalah kesediaan jiwa yang sifatnya aktif untuk menerima sesuatu yang dari luar.”[51] Sedangkan menurut Neugroho mengatakan bahwa :”Minat adalah suatu rasa, lebih suka, rasa keterikatan pada suatu hal atau aktivitas tanpa desakan atau paksaan orang lain.”[52]

Minat adalah kecenderungan yang tetap untuk memperhatikan dan mengenang beberapa kegiatan yang diminati seseorang, diperhatikan terus menerus yang disertai dengan rasa senang akan diperoleh kepuasan. Minat besar pengaruhnya terhadap belajar. Karena bila bahan pelajaran yang dipelajari tidak sesuai dengan minat siswa, siswa tidak akan belajar dengan sebaik-baiknya, karena tidak adanya daya tarik baginya. Ia segan-segan untuk belajar, ia tidak memperoleh kepuasan dari pelajaran itu. Bahan pelajaran yang menarik minat siswa, lebih mudah dipelajari dan disimpan, karena minat menambah kegiatan belajar. Dan menurut Slameto dalam bukunya Belajar dan Faktor-faktor yang Mempengaruhi, (2003 : 180), menyatakan bahwa:

Minat adalah suatu rasa lebih suka dan rasa keterikatan pada suatu hal atau aktivitas, tanpa ada yang menyuruh. Minat pada dasarnya adalah penerimaan akan suatu hubungan antara diri sendiri dengan sesuatu di luar diri. Semakin kuat atau dekat hubungan tersebut, semakin besar minat.[53]

Sedangkan D. Gunarsa juga mengatakan bahwa :”Minat adalah suatu yang pribadi dan berhubungan erat dengan sikap. Minat dan sikap merupakan dasar dari prasangka dan juga penting dalam mengambil keputusan dan minat dapat menyebabkan seseorang dapat melakukan aktivitas menuju kesuatu yang telah menarik minatnya.”[54]

Jadi, dapat dikatakan bahwa minat adalah suatu keinginan atas dasar adanya kebutuhan dan kemungkinan terpenuhinya kebutuhan itu. Menurut Wayan Nurkancana menyatakan tentang minat adalah:

Minat sangat erat hubungannya dengan kebutuhan, misalnya seorang anak laki-laki yang sedang berkembang, sangat membutuhkan pertumbuhan pisik, akan menaruh minat terhadap aktivitas-aktivitaspisik, seperti sepak bola, basket, dan aktivitas-aktivitas lainnya yang dapat mempercepat pertumbuhan pisiknya. Begitu pula anak yang sedang membutuhkan hubungan dengan orang lain akan sangat menaruh minat terhadap alat komunikasi yaitu bahasa.[55]

Menurut E. Usman Efendi :”Minat erat hubungannya dengan kebutuhan seseorang terhadap perkembangan pisiknya dan juga minat itu dapat dibangkitkan dengan cara: membangkitkan suatu kebutuhan, (misalnya kebutuhan untuk menghargai keindahan, mendapatkan penghargaan), menghubungakan dengan pengalaman yang lampau, memberikan kesempatan untuk mendapat hasil yang baik.”[56]

Dalam hal ini minat tersebut dapat dibangkitkan bukan saja dari diri seseorang, namun dibantu oleh dorongan orang lain. Jadi, kesimpulan yang diambil peneliti terhadap pengertian minat belajar adalah: keinginan, kesukaan siswa di dalam belajar tanpa ada unsur paksaan. Ini berarti minat sangat menentukan pribadi manusia di dalam melakukan aktivitas. Di dalam proses belajar mengajar, aktif atau pasifnya seorang anak didik atau guru tergantung pada minat mereka di dalam melakukan aktivitas tersebut. Tanpa minat belajar, maka aktivitas belajar akan menurun, bahkan bisa akan pudar dan sebaliknya.

  1. b. Aspek-Aspek Minat Belajar

1)          Perhatian

Perhatian menurut Gazali yang dikutip oleh Slameto adalah :”Keaktifan jiwa yang dipertinggi, jiwa itupun semata-mata tertuju kepada suatu objek (benda/hal) atau sekumpulan objek.”[57] Untuk dapat menjamin hasil belajar yang baik, maka siswa harus mempunyai perhatian terhadap bahan yan dipelajarinya, jika bahan pelajaran tidak menjadi perhatian siswa, maka timbullah kebosanan, sehingga ia tidak suka lagi belajar. Agar siswa dapat belajar dengan baik, usahakanlah bahan pelajaran selalu menarik perhatian dengan cara mengusahakan pelajaran itu sesuai dengan hobi atau bakatnya.

Selanjutnya, Kartini Kartono mengatakan bahwa: ”Siswa yang memiliki minat terhadap subjek tertentu cenderung untuk memberikan perhatian yang lebih besar terhadap subjek tersebut.”[58] Jadi, bagi siswa yang memiliki minat, maka ia memberikan perhatian yang cukup besar terhadap apa yang diminati itu. Sehingga jelas bahwa perhatian itu mepunyai keterikatan dengan masalah minat belajar.

2)          Motivasi

Menurut MC Donal karangan Wasti Sumanto memberikan defenisi tentang motivasi yaitu :”Suatu perubahan tenaga dalam diri atau pribadi seseorang yang ditandai oleh dorongan efektif dan reaksi-reaksi dalam usaha mencapai tujuan”.[59] Dari kutipan di atas motivasi merupakan pendorong bagi perbuatan seseorang hal ini menyangkut bahwa seseorang dapat berbuat demikian. Begitu juga dalam belajar, peranan motivasi akan membuat reaksi-reaksi yang mengarahkankan dirinya kepada usaha-usaha untuk memperoleh hasil yang baik.

Selanjutnya Ngalim Purwanto berpendapat bahwa motivasi adalah:”segala sesuatu yang mendorong seseorang untuk bertindak melakukan sesuatu”.[60] Dari pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa motivasi itu adalah merupakan suatu dorongan bagi seseorang untuk ebrindak dan melakukan pekerjaan. Dalam persoalan belajar juga motivasi itu merupakan suatu hal yagn sangat penting untuk diberikan kepada para siswa, karena dapat dikatakan bahwa motivasi itu merupakan salah satu hal yang mutlak dipegang atau dimiliki oleh siswa agar dia mampu belajar dengan baik.

Di sekolah sering kali dijumpai siswa malas untuk belajar, suka membolos dan sebagainya. Hal ini dapat disebabkan oleh guru kurang berhasil untuk meberikan motivasi yang tepat untuk mendorong siswa dalam belajar. Selanjutnya motivasi itu juga mempunyai keterikatan yang erat dengan minat. Ada kalanya siswa memiliki minat belajar akan tetapi karena minat tersebut tidak pernah dipupuk dengan motivasi, maka memiliki minat tersebut akan lebih menurun. Sebaliknya ada kalanya siswa kurang memilii minat belajar, tetapi karena selalu di motivasi oleh guru, maka minat itu semakin bertumbuh.

Dalam kegiatan belajar mengajar pasti ditemukan anak didik yang malas berpartisipasi dalam belajar. Sementara anak didik yang lain aktif berpartisipasi dalam kegiatan, seorang atau dua orang anak didik duduk dengan santainya di kursi mereka dengan alam pemikiran yang jauh entah kemana. Sedikitpun tidak tergerak hatinya untuk mengikuti pelajaran dengan cara mendengarkan penjelasan guru dan mengerjakan tugas-tugas yang diberikan. Ketiadaan minat terhadap suatu mata pelajaran menjadi pangkal penyebab kenapa anak didik tidak bergeming untuk mencatat apa yang disampaikan oleh guru. Itulah sebagai pertanda bahwa anak didik tidak mempunyai motivasi untuk belajar. Kemiskinan motivasi intrinsik ini merupakan masalah yang memerlukan bantuan yang tidak bisa ditunda-tunda. Guru harus memberikan suntikan dalam bentuk motivasi ekstrinsik. Sehingga dengan bantun itu anak didik dapat keluar dari kesulitan belajar. Bila motivasi ekstrisik yang diberikan itu dapat membantu anak didik keluar dari lingkaran masalah kesulitan belajar, maka motivasi dapat diperankan dengan baik oleh guru. Peranan yang dimainkan oleh guru dengan mengandalkan fungsi-fungsi motivasi merupakan langkah yang akurat untuk menciptakan iklim belajar yang kondusip bagi anak didik. Baik motivasi intrinsik maupun motivasi ekstrisik sama berfungsi sebagai pendorong, penggerak, dan penyeleksi perbuatan. Ketiganya menyatu dalam sikap terimplikasi dalam perbuatan. Dorongan adalah fenomena psikologis dari dalam yang melahirkan hasrat untuk bergerak dalam menyeleksi perbuatan yang akan dilakukan. Karena itulah baik dorongan atau penggerak maupun penyeleksi merupakan kata kunci dari motivasi dalam setiap perbuatan dalam belajar.

3)          Keinginan

Menurut W.J.S. Poerwardarminta mengatakan bahwa keinginan adalah: “Adanya hasrat seseorang untuk mengetahui dan mengerti sesuatu”.[61] Maka dari kutipan di atas dapat dikatakan dengan keinginan di dalam belajar maka isi pelajaran itu akan mudah dimengerti. Sejalan dengan hal tersebut Agus Sujanto dalam bukunya Psikologi Umum, mengatakan bahwa keinginan adalah : “Dorongan nafsu yang tertuju kepada sesuatu benda tertentu atau yang konkret”.[62] Dari kutipan di atas jelas bahwa keinginan juga merupakan : suatu dorongan yang timbul dari perasaan hati selanjutnya akan timbul perhatian terhadap objek yang dilihat.

Begitu juga dalam halnya belajar, dimana keinginan yang ada dalam diri siswa akan memberi dorongan baginya untuk lebih aktif terhadap pelajaran. Sehingga boleh dikatakan bahwa dengan adanya minat dan keinginan untuk belajar, maka materi pelajaran akan mudah dipahami siswa.

4)          Tujuan

Tujuan berarti sasaran yang hendak dicapai setiap usaha sudah jelas mempunyai tujuan. Bekerja tanpa diketahui arahnya sama halnya dengan berlayar tanpa diketahui kepulau mana kapal itu akan diarahkan. Demikian halnya dengan belajar, siswa yang tidak mengetahui apa yang menjadi tujuan belajarnya, tidak akan jelas setiap kegiatan yang dilakukan oleh orang belajar dengan tujuan agar dia mempunyai ilmu pengetahuan yang dapat digunakannya dalam kehidupan sehari-hari dan untuk mencapai apa yang dicita-citakan. Tujuan mempunyai hubungan yang erat dengan minat, apabila siswa mempunyai minat belajar, maka hal itu akan mudah untuk memperoleh hasil yang diharapkan dari pelajaran itu karena sudah mengikuti. Dan bila siswa tidak mempunyai minat belajar, karena dia tidak mampu mengikuti pelajaran dengan tekun.

Seperti yang dikatakan oleh Rochman Natawidja dalam bukunya Psikologi Perkembangan, bahwa : “Salah satu hal yang memperkuat minat, ialah apabila sesuatu atau seseorang dilingkungan individu yang bersangkutan itu dapat dijadikan sebagai alat untuk mencapai tujuannya. Oleh karena itu, masalah tujuan pembuatan itu sangat penting memahami tingkah laku individu”.[63]

Dari kutipan di atas bahwa yang ada dalam diri siswa akan mendorong nya belajar kea rah yang lebih aktif tujuan tersebut bersangkut paut dengan lingkungan siswa itu. Dalam hal ini guru di tuntun untuk dapat menciptakan lingkungan sebagai alat pencapaian tujuan setiap siswa. Karena hal itulah yang akan mendororng dan memperkuat, mempertinggi minat belajar siswa.

5)          Kecenderungan

Agus Sujanto menyatakan bahwa : “Kecenderungan adalah hasrat yang aktif yang menyuruh kita agar cepat bertindak”.[64] Jadi, kecenderungan itu merupakan suatu sikap condong untuk melakukan perbuatan yang aktif kepada suatu objek dengan sikap cenderung itu maka sikap siswa akan nampak kea rah mana kesukaan hatinya.

Apabila kita implikasikan dalam belajar, aspek kecenderungan ini merupakan sikap yang timbul oleh karena adanya minat terhadap pelajaran. Sehingga dengan adanya minat terhadap pelajaran siswa nampak lebih cenderung mengikuti pelajaran yang diminatinya.

  1. c. Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Minat Belajar

Minat bagi manusia merupakan motor penggerak terhadap sumber daya jiwanya, oleh karena itu minat belajar merupakan faktor yang terpenting dalam proses belajar. Tidak seluruhnya pelajaran yan diminati oleh siswa, bahkan jika diperhatikan hamper seluruhnya pelajaran tidak diminati oleh siswa. Untuk itu perlu usaha-usaha untuk meningkatkan minat belajar siswa. Ada tidaknya atau berkembang tidaknya minat seseorang itu dipengaruhi oleh dua factor yaitu : faktor internal dan faktor eksternal.

1)      Faktor Internal (faktor yang bersumber dari dalam diri siswa), meliputi :

a)      Faktor Inteligensi

Orang berfikir menggunakan pikirannya. Cepat tidaknya dan terpecahkan atau tidaknya suatu masalah tergantung kepada kemampuan intelegensinya. Dilihat dari inteligensinya, kita dapat mengatakan seseorang itu pandai atau bodoh. Menurut M. Ngalim Purwanto Inteligensi ialah :”kemamapuan yang dibawa sejak lahir yang memeungkinkan seseorang berbuat sesuatu dengan cara yang tertentu”.[65] Inteligensi menurut Agus Sujanto:“inteligensi adalah kesanggupan jiwa untuk dapat menyesuaikan diri dengan cepat dan tepat suatu situasi yang baru. Artinya kesanggupan seseorang itu untuk secara sadar menyesuaikan pikirannya terhadap keperluan-keperluan yang baru”.[66] Berdasxarkana kutipan tersebut, diketahui bahwa inteligensi itu adalah suatu keadaan yang dapat diukur berdasarkan tingkah laku atau perbuatan dengan alat yang disebut tes intelegensi. Seorang yagn dikatakan bertingkah laku baik secara fisiologis maupun psykologis dapat dikatakan inteligen, apabila seorang siswa (anak) dengan mudah dan cepat dalam melakukan kegiatan dapat dikatakan siswa yang intelegen. Dengan demikian pengaruh inteligensi terhadap minat belajar anak adalah sangat penting.

b)       Faktor Motivasi

Banyak para ahli yang sudah mengemukakan pengertian motivasi dengan berbagai sudut pandang mereka masing-masing, namun intinya sama, yakni sebagai suatu pendorong yang mengubah energi dalam diri seseorang ke dalam bentuk aktivitas nyata untuk mencapai tujuan tertentu. Mc. Donald mengatakan bahwa, Motivation is an energi change within the person characterized by affective arousal and anticipatory goal reactions.[67] Motivasi adalah suatu perubahan energi di dalam pribadi seseorang yang ditandai dengan timbulnya afektif (perasaan) dan reaksi untuk mencapai tujuan. Dalam proses belajar, motivasi sangat diperlukan, sebab seseorang yang mempunyai motivasi dalam belajar, tidak akan mungkin melakukan aktifitas belajar. Seseorang yang melakukan aktivitas belajar secara terus menerus tanpa motivasi dari luar dirinya merupakan motivasi intrinsik yang sangat penting dalam aktivitas belajar. Namun, seseorang yang tidak mempunyai keinginan untuk belajar, dorongan dari luar dirinya merupakan motivasi ekstrinsik yang diharapkan. Oleh karena itu, motivasi ekstrinsik diperlukan bila motivasi intrinsik tidak ada dalam diri seseorang sebagai subjek belajar. Guru-guru sangat menyadari penting motivasi di dalam membimbing belajar murid. Berbagai macam teknik misalnya kenaikan tingkat, penghargaan, peranan-peranan kehormatan-kehormatan, piagam-piagam prestasi, pujian dan celaan telah digunakan untuk mendorong murid-murid agar mau belajar. Ada kalanya, guru-guru mempergunakan teknik-teknik tersebut secara tidak tepat. Bukan hanya sekolah-sekolah yang berusaha memberi motivasi tingkah laku manusia kearah perubahan tingkah laku yang diharapkan. Orang tua atau keluarga pun telah berusaha memotivasi belajar anak-anak mereka.

Judith. J.H & Raymond J.W mengatakan Kelompok yang berkecimpung dibidang Manajement yang membuat rencana Insentive baru untuk meningkatkan produksi, adalah berusaha memotivasi perubahan-perubahan dalam tingkah laku.[68] Kaum pengusaha mengeluarkan biaya setiap tahun untuk memasang advertensi, berarti memotivasi orang-orang agar mau membeli dan menggunakan hasil-hasil usahanya. Dari uraian diatas, ternyata kesadaran tentang pentingnya motivasi bagi perubahan tingkah laku manusia telah dimiliki, baik oleh para pendidik, para orang tua murid maupun masyarakat.

Motivasi adalah syarat mutlak untuk belajar. Di sekolah sering sekali terdapat anak yang malas, tidak menyenangkan, suika membolos, dan sebagainya. Dalam hal demikian berarti bahwa guru tidak berhasil memberikan motivasi. Motivasi adalah segala sesuatu yang mendorong seseorang untuk bertindak melakukan sesuatu. Motivasi juga dapat diartikan sebagai pernyataan yang kompleks di dalam suatu organisme yagn mengarahkan tingkah laku atau perbuatan ke suatu tujuan atau perangsang.[69]

Menurut Dirto Hadi Susanto: “Motivasi ialah suatu keadaan yan bekerja dalam diri seseorang untuk mempengaruhi tindakannya terhadap suatu ransangan dari luar”.[70] Dari kutipan ini dikatakan bahwa motivasi adalah tenaga penggerak dari yan mendorong untuk bertindak. Motivasi memberikan semangat kepada seorang pelajar dalam kegiatan-kegiatan belajarnya dan usaha-usaha untuk menimbulkan kegairahan dalam melakukan suatu kegiatan dalam mencapai tujuan tertentu. Jadi, motivasi yang kuat pada diri siswa (anak) memungkinkan tercapainya minat belajar yang baik.

2)      Faktor Eksternal (faktor yang berasal dari luar diri siswa), meliputi:

a)      Faktor dari dalam sekolah, meliputi:

  1. Faktor Guru

Guru adalah seseorang yang memiliki peranan yagn cukup penting dalam mendidik setiap siswa-siswanya. Untuk itu guru diharapkan mampu menarik minat siswa baik lewat metode pengajaran maupun tingkah laku. Seperti yang diungkapkan Slameto dalam bukunya Belajar dan Faktor-faktor yang Mempengaruhinya, (2003 : 100), dikatakan: “guru dapat berperan sebagai pembimbing yang tidak menimbulkan pertentangan. Guru dapat menimbulkan minat dan semangat belajar sisiwa-siswinya melalui matapelajaran yangdiajarkannya”.[71]

  1. Faktor Metode Mengajar

Dalam mengajar guru hendaknya perlu mempersiapkan apa yang akana disajikan kepada siswanya. Karena ketika mengajar guru berhadapan dengan bemacam-macam tingkah laku siswanya, ada siswa yang bermain-main, ngantuk saat guru menjelaskan dan banyak hal lagi tingkah laku yang dihadapi oleh gurupada saat mengajar. Untuk mengatasi hal ini perlu usaha guru untuk membangkitkan gairah dan minat belajar mereka yakni, guru perlu mempersiapkan pengajaran. Misalnya dengan metode pengajaran yang bervariasi. Seperti yang dikatakan oleh J. Munthe: “Pengajaran haruslah disajikan dengan memeakai suatu metode tertentu yang dianggap cara yang paling tepat, agar pelajaran itu menjadi milik murid”.[72] Dengan metode pengajaran tersebut akan memudahkan dan membantu guru serta siswa dalam menerima pelajaran.

  1. Faktor Fasilitas Mengajar

Dalam pendidikan dan pengajaran manfaat fasilitas atau alat Bantu mengajar sangat membantu proses belajar mengajar. Karena melalui alat Bantu tersebut dapat memperbesar perhatian dan minat dari anak didik untuk belajar. Faktor fasilitas juga bermanfaat untukmemabntu perkembangan belajar siswa dan akan memerikan pengalaman yang nyata bagi siswa. Meskipun jika diperhatikan fasilitas untuk bidang studi Penddikan Agama Kristen (PAK) belum dapat memenuhi kebutuhan sebagaimana layaknya. Namun, bukan berarti guru dalam mengajar kurang berhasil, setidak-tidaknya guru megnajar dengan memiliki keterampilan. Perlu diketahui bahwa sejumlah keterampilan tersebut merupakan hasil terapan teori-teori dari ilmu mengajar. Menurut Soekartawi dalam bukunya Meningkatkan Efektifitas Mengajar, menyatakan bahwa:

Pada dasarnya fasilitas maupun alat bantu mengajar dibedakan menjadi tiga kategori alat bantu sebagai media intruksional pengajaran, yaitu : media cetak (berupa bahan tertulis dan dicetak, antara lain berupa buku-buku teks, majalah, diktat, modul dan bahan ajar lainnnya), media elektronik (alat Bantu mengajar yang berupa hasil kerja dengan bantuan alat elektronik seperti : televise, radio, overhead proyektor dan slide) dan alat Bantu mengajar yang lain dapat berupa kapur tulis, pensil, pulpen, papan tulis dan benda-benda lain yang dapat dipakai sebagai alat peraga atau alat bantu mengajar.[73]

  1. Faktor Sistem Evaluasi

“Evaluasi merupakan proses sederhana memberikan/menetapkan nilai kepada sejumlah tujuan, kegiatan, keputusan, unjuk kerja”.[74] Dengan kata lain evaluasi adalah proses sistematika untuk menentukan nilai sesuatu (tujuan, kegiatan, keputusan, proses, unjuk kerja dan yang lainnya) berdasarkan kriteria tertentu melalui penilaian.

Menurut S. Soeto dalam bukunya Praktek Keguruan menyatakan bahwa:

Ada prinsip evaluasi yang harus diperhatikan bahwa: 1) Prinsip countiunitas, menekankan evaluasi itu dijalankan secara terus-menerus, selalu diadakan untuk mendampingi fase-fase belajar anak-anak dari soal ke soal. 2) Prinsip konprehensip, menurut evaluasi yang mencakup anak secara kesatuan yang bulat dan tidak secara bagian demi bagian.[75]

Jika diperhatikan kedua prinsip evaluasi tersebut maka sama tujuannya dengan jenis evaluasi formatif dan sumatif. Lebih lanjut Winarno Surakhmad mengatakan :

Penelitian formatif adalah penelitian yang dilaksanakan untuk keperluan memberikan keterangan balikan kepada guru, sebagai dasar untuk memperbaiki proses belajar mengajar dan untuk memberikan pelayanan khusus bagi murid. Sedangkan penilaian sumatif ialah suatu system penilaian yang dilaksanakan untuk keperluan memberikan angka kemajuan belajar siswa yang sekaligus digunakan untuk memberikan laporan kepada orang tua tentang kemajuan belajar anaknya untuk penentuan naik kelas dan sebagainya.[76]

Berdasarkan kutipan di atas, jelas menerangkan bahwa penilaian itu bukan hanya memeperoleh nilai, akan tetapi adalah untuk meningkatkan minat dalam belajar.

b)      Faktor dari luar sekolah

  1. Faktor Orang Tua.

Kelurga adalah salah satu tempat yagn pertama dan yang utama bagi siswa menerima pendidikan. Orang tua sebagai tempat perlindungan si anak (siswa) sangat memegang peranan penting dalam keluarga. Singgih Gunarsa dalam bukunya Psikologi Untuk Keluarga, menyatakan: “memenuhi kebutuhan-kebutuhan anak, baik dari sudut organis psikologis antara lain makanan, tetapi juga kebutuhan psikis seperti kebutuhan akan perkembangan intelektual melalui pendidikan, kebutuhan akan rasa dikasihi, dimengerti dan rasa aman melalui perawatan, asuhan, ucapan-ucapan dan perlakuan-perlakuan”.[77] Segala tindak tanduk orang tua nampak jelas kelihatan kapada si anak, baik maupun buruk. Sebagai usaha untuk mendidik anak lebih matang tentu oang tua anak menyekolahkan anaknya. Orang tua tidak hanya memberikan kebutuhan jasmaninya saja, orang tua yang bijaksana mempunyai tanggung jawab untuk mendidik anak-anaknya dalam mengenalkan Tuhan kepadanya sejak kecil. Orang tua harus mendukung anaknya dalam pendidikan. Sebab dengan dukungan orang tua dalam pendidikan anak, akan meningkatkan minat belajar anak tersebut.

  1. Faktor Lingkungan

Faktor lingkungan adalah salah faktor yang mempengaruhi minat belajar anak seperti yang diungkapkan oleh John Looke yang dikutip oleh Singgih Cumarad dalam bukunya Psikologi Perkembangan, mengatakan: “anak yang baru lahir seperti kertas putih bersih dan lingkungan yang bergerak menulisnya”.[78] Masa sekolah siswa telah bergaul dengan masyarakat luas, baik dalam lingkungan sekolah maupun di luar sekolah. Bila tidak dibatasi, ia tentu akan mengikuti perkembangan-perkembangan yang ada dalam kelompok pergaulan. Hal ini akan mempengaruhi minat belajar siswa bahkan ia akan lupa belajar di rumah dan akan terpengaruh terhadap pelajaran di sekolah yang mengakibatkan prestasi belajar menurun karena tidak ada lagi minat dalam belajar.

  1. d. Usaha-usaha Untuk Meningkatkan Minat Belajar Siswa

Guru harus selalu berusaha untuk meningkatkan minat belajar siswa. Hal ini sesuai dengan pendapat W.S. Winkel dalam bukunya Psykologi Perkembangan         menyatakan “masalah pokok yang perlu dihayati oleh guru/pengajar adalah bagaimana meningkatkan minat, perhatian murid atau subyek belajar terhadap bahan pelajaran yang dipelajarinya”.[79]

Dari pendapat tersebut jelaslah bahwa guru mempunyai suatu tugas untuk selalu melakaukan upaya-upaya dalam meningkatkan minat belajar, agar tujuan yang diharapkan dapat tercapai. Menurut Thamrin Nasution), bahwa usaha guru dalam meningkatkan minat belajar siswa adalah:

  1. Guru berusaha meningkatkan disiplin para siswa
  2. Guru berusaha membantu masalah yang dihadapi siswa, dalam menyongsong masa depan yang lebih baik
  3. Guru berusaha meningkatkan perkembangan pengetahuan siswa.[80]

Pada hakekatnya PAK di sekolah akan berusaha untuk mengembangkan pengetahuan siswa dengn agama sebagai bekal mereka di masa yang akan datang. Siswa dapat membekali dirinya dengan berbagai ilmu pengetahuan sekaligus mengajarkan Firman Tuhan harus mampu mengembangkan sesuai dengan pengetahuan dasar siswa.

Menurut Thamrin Nasution, mengatakan bahwa minat itu dapat ditingkatkan dengan cara, antara lain:

  1. melengkapi bahan atau alat keperluan anak dalam menyelenggarakan pendidikannya.
  2. memberi makan yang bergizi
  3. memberi kesempatan belajar yang cukup
  4. menghapuskan segala displin yang kaku
  5. tidak boleh terlalu banyak menuntut dari anak.[81]

Dari penjelasan di atas dapat diketahui bahwa minat siswa itu dapat ditingkatkan dengan berbagai cara usaha.

Beberapa langkah untuk menimbulkan minat belajar menurut Sudarmoto, yaitu :

  • Mengarahkan perhatian pada tujuan yang hendak dicapai.
  • Mengenai unsur-unsur permainan dalam aktivitas belajar.
  • Merencanakan aktivitas belajar dan mengikuti rencana itu.
  • Pastikan tujuan belajar saat itu misalnya; menyelesaikan PR atau laporan.
  • Dapatkan kepuasan setelah menyelesaikan jadwal belajar.
  • Bersikaplah positif di dalam menghadapi kegiatan belajar.
  • Melatih kebebasan emosi selama belajar.[82]

Sedangkan menurut Sardiman A.M, cara mebangkitkan minat adalah dengan cara sebagai berikut:”

  1. membangkitkan adanya suatu kebutuhan
  2. menghubungkan dengan persoalan pengalaman yang lampau
  3. memberi kesempatan untuk mendapatkan hasil yang baik
  4. menggunakan berbagai macam bentuk mengajar”.[83]

Dari beberapa tanggapan di atas, maka untuk membangkitkan minat siswa yaitu adanya kerjasama yang baik antara guru dan murid, dimana guru harus berperan aktif untuk memberikan kebebasan dalam mengembangkan minat anak tersebut dan guru juga tidak boleh terlalu menoton dalam mengajar sehingga anak didik tidak merasa jenuh atau bosan.

  1. B. KERANGKA  BERPIKIR

Komptensi kepribadian adalah kemampuan kepribadian yang mantap, stabil, dewasa, arif, dan berwibawa, menjadi teladan bagi peserta didik dan berakhlak mulia. Dengan demikian guru harus memiliki kepribadian dalam mendidik siswa khususnya dalam meningkatkan minat belajarnya. Karena dalam mendidik berarti membimbing anak untuk mengembangkan bakatnya maka anak itu sendirilah yang harus aktif. Demikian pula halnya dalam belajar, guru harus merangsang keaktifan murid dengan jalan menyajikan bahan pelajaran untuk kemudahan diolah dan dicernakan sendiri oleh anak sesuai dengan bakat dan latar belakang masing-masing. Belajar merupakan suatu proses di mana peserta didik harus aktif. Aktivitas-aktivitas tersebut tidaklah terpisah satu sama lain. Dalam setiap aktivitas motoris terkandung aktivitas mental disertai oleh perasaan tertentu dan seterusnya.

Segala pengetahuan harus diperoleh melalui pengamatan (mendengar, melihat dan sebagainya) sendiri dan pengalaman sendiri. Jiwa itu dinamis, memiliki energi sendiri dan dapat menjadi aktif sebab didorong oleh kebutuhan-kebutuhan. Guru hanyalah merangsang keaktifan dengan jalan menyajikan bahan pelajaran, yang mengolah dan mencerna adalah peserta didik itu sendiri sesuai kemauan, kemampuan, bakat dan latar belakang masing-masing.

Di SMK BM Pencawan diharapkan guru agama Kristen mampu membuat anak semakin berminat terhadap mata pelajaran agama Kristen melalui kompetensi kepribadian yang dimiliki. Jika kita lihat pada umumnya siswa tidak begitu antusias dalam mengikuti pelajaran agama dan hal itu juga disebabkan dari pribadi guru yang tidak mampu untuk mengaktifkan siswa, sehingga minat belajar siswa kurang karena kepribadian guru tersebut kurang bersahabat di hati siswa.

Namun masih perlu diteliti, apakah kompetensi kepribadian guru PAK mampu memberikan pengaruh yang positif dalam mengembangkan minat siswa terhadap mata pelajaran agama Kristen SMK BM Pencawan  Medan, sehingga akan diteliti dalam tulisan ini: Apakah terdapat pengaruh pengaruh kompetensi kepribadian guru Pendidikan Agama Kristen terhadap minat belajar siswa kelas XI SMK BM Pencawan  Medan Tahun Pelajaran 2010/2011.

  1. C. HIPOTESIS

Menurut Husaini Usman dan Purnomo Setiady Akbar mengatakan: “Hipotesa adalah praduga atau jawaban sementara terhadap rumusan masalah penelitian”.[84] Terdapat pengaruh yang berarti dari Kompetensi Kepribadian Guru PAK terhadap Minat belajar siswa kelas XI SMK BM Pencawan  Medan Tahun Pelajaran 2010/2011.

BAB III

ANALISIS DAN PERANCANG SISTEM

  1. A. Tempat dan Waktu Penelitian

Tempat yang digunakan sebagai lokasi penelitian dilangsungkan di  SMK BM Pencawan Medan. Proses penelitian berlangsung secara bertahap yakni: tahap observasi, pelaksanaan penelitian dan pelaporan hasil penelitian. Dan  waktu yang digunakan dalam penelitian ini terhitung sejak mulai disahkannya judul penelitian yakni pada tanggal 3 Juni 2010 hingga berakhirnya proses penelitian dan pelaporan hasil penelitian.

  1. B. Metode Penelitian

Hasil dari suatu penelitian sangat dipengaruhi oleh metode penelitian yang digunakan, maka untuk memperoleh hasil penelitian yang baik diperlukan suatu cara atau metode yang sesuai digunakan dalam rangka mendapatkan data ilmiah sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai.

Dalam hal ini, Surachmad (1986 : 13) menyatakan bahwa :

Metode merupakan suatu cara utama yang digunakan untuk mencapai tujuan, misalnya untuk menguji serangkaian hipotesa dengan mempergunakan teknik serta alat tertentu. Cara utama itu dipergunakan setelah penyelidik memperhitungkan kewajaran ditinjau dari tujuan penyelidikan serta dasar suatu penyelidikan.

Berdasarkan uraian di atas, penelitian ini menggunakan metode yang dipergunakan peneliti dalam penelitian ini adalah metode deskriptif. Metode deskriptif merupakan suatu cara penelitian yang hasilnya melukiskan keadaan sekarang yang diperoleh melalui data dari keadaan di lapangan. Oleh karena itu penelitian ini juga mencari besar dan arah hubungan variabel bebas terhadap variabel kriterium, maka penelitian ini dapat juga disebut studi korelasional, dan oleh karena datanya  dijaring dengan menggunakan angket, sehingga penelitian ini disebut survei atau lebih dikenal dengan metode ex post facto. Artinya, penelitian yang dilakukan setelah suatu kejadian itu terjadi. Disebut juga sebagai restropective study karena penelitian ini merupakan penelitian penelusuran kembali terhadap suatu peristiwa atau suatu kejadian dan kemudian merunut ke belakang untuk mengetahui faktor-faktor yang dapat menimbulkan kejadian tersebut.

  1. C. Populasi dan Sampel Penelitian

Suatu penelitian yang efesien dan efektif tidak terlepas dari penentuan populasi yang akan memberikan data-data objek penelitian, yang jelas batas-batasnya serta mempunyai sifat-sifat yang bersamaan. Apabila seseorang ingin meneliti semua elemen yang ada dalam wilayah penelitian maka penelitiannya merupakan penelitian populasi. Dalam hal ini Singarimbun (1985: 108) mengatakan bahwa “Populasi merupakan jumlah keseluruhan yang dapat dijadikan sumber data yang akan di duga”.

Sejalan dengan kutipan di atas, juga dikemukakan oleh Nawawi (1987 : 29) mengatakan bahwa : “Populasi adalah keseluruhan objek penelitian yang dapat terdiri dari manusia, hewan, tumbuhan, gejala-gejala (fenomena-fenomena), nilai test atas peritiwa sebagai sumber data yang dimiliki karakteristik tertentu di dalam suatu penelitian”. Sedangkan sampel adalah sebagian atau wakil dari populasi [85] Demikian juga halnya dengan Arikunto menyebutkan bahwa populasi adalah keseluruhan subjek dalam penelitian, dan sampel adalah sebagian atau wakil dari populasi yang diteliti.[86] Berdasarkan kutipan di atas, maka yang menjadi populasi dalam penelitian ini adalah keseluruhan siswa kelas XI SMK BM Pencawan Medan Tahun Ajaran 2009/ 2010 yang beragama Kristen yang terdiri dari 65 orang.

Kemudian, untuk menentukan besarnya sampel dalam penelitian ini digunakan teknik pengambilan sampel seperti yang dikemukakan oleh Ridwan yang mengatakan : “Apabila ukuran populasi sebanyak £100, pengambilan sampel sekurang-kurangnya 50% dari ukuran populasi. Apabila ukuran populasi ³100, ukuran sampel diharapkan sekurang-kurangnya 15% dari ukuran populasi”.[87] Berdasarkan pendapat tersebut, maka sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebanyak 35 orang atau 50 % dari keseluruhan jumlah populasi.

  1. D. Instrumen Penelitian
    1. 1. Teknik Pengumpulan Data

Untuk mengetahui seberapa besar pengaruh Kompetensi Kepribadian Guru PAK terhadap minat belajar siswa, maka dilakukan penyebaran instrumen angket pada siswa kelas XI. Angket yang disebarkan terdiri dari dua jenis, yakni jenis angket yang ditujukan untuk mengetahui data Variabel X dan angket untuk menjaring data Variabel Y, seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya.

1)   Kompetensi Kepribadian Guru PAK (X)

Untuk menjaring data tentang Kompetensi Kepribadian Guru PAK, digunakan angket yang disusun berdasarkan format skala Likert dan jumlah angket sebanyak 30 butir yang terdiri dari 4 pilihan jawaban dengan skor yang berbeda, seperti berikut ini :

a.   Untuk pernyataan positif

-          Sangat setuju  (SS)              diberi skor  4

-          Setuju  (S)                           diberi skor  3

-          Tidak  setuju  (TS)              diberi skor  2

-          Sangat tidak setuju  (STS)  diberi skor  1

b.   Untuk pernyataan negatif

-          Sangat setuju  (SS)              diberi skor  1

-          Setuju  (S)                           diberi skor  2

-          Tidak  setuju  (TS)              diberi skor  3

-          Sangat tidak setuju  (STS)  diberi skor  4

Jika seorang subyek penelitian memilih jawaban ( a ) dari semua butir ( 1 sampai 30 ) maka skor pilihan akan menjadi 4 x 30 = 120. Total skor perolehan ini merupakan perkalian dari jawaban pilihannya.

Tabel 1. Kisi-Kisi Instrumen Variabel X (Kompetensi Kepribadian Guru PAK)

Variabel Aspek Indikator Butir Item Jumlah
Kompetensi Kepribadian Guru PAK (X)
  1. 1. Kepribadian yang mantap, stabil

  1. 2. Kepribadian yang dewasa

  1. 3. Kepribadian yang arif

  1. 4. Kepribadian yang berwibawa

  1. Menjadi berakhlak mulia dan teladan bagi peserta didik
    1. Bertindak sesuai dengan norma hukum
    2. Bertindak sesuai dengan norma sosial
Bangga sebagai pendidik

a.  Memiliki konsistensi dalam bertindak sesuai dengan norma

b. Menunjukkan keterbukaan dalam berpikir dan bertindak

Memiliki kepribadian yang berwibawa

Dapat menjadi teladan

1, 3, 4, 5

2, 6, 7

8, 9, 10, 11, 12, 13

14,16, 17,18, 20

15, 21, 23,

25,26, 27

24, 28, 22, 24, 29, 30

4

3

6

5

3

3

6

Jumlah 30 30

2)   Minat Belajar Siswa (Y)

Sama halnya dengan variabel X di atas, untuk menjaring data pada variabel Y juga menggunakan teknik yang sama, yakni dengan menggunakan skala Liker dengan skor nilai untuk setiap butir options yang sama.

Tabel 2. Kisi-Kisi Instrumen Variabel Y (Minat Belajar PAK Siswa)

Variabel Aspek Indikator Butir Item

Jumlah

Minat Belajar Siswa (Y)

1.  Aspek-aspek Minat

2.  Faktor yang  mempengaruhi Minat Belajar

  1. Perhatian
  1. Motivasi
  1. Tujuan
  1. Keinginan
  1. Kecenderungan
  1. Internal
  1. Eksternal
1, 2 & 3,

24, 4, 6, 12

28, 5, 7, 10, 19

8, 17, & 9

11, 26, 30

13, 14, 15, 18 22, 27 & 29

16, 21, 20, 23, 25

3

4

4

3

3

7

5

Jumlah 30 30

  1. 2. Uji Coba Instrumen

Untuk mengetahui bagaimana yang disebarkan dalam penelitian, berikut ini dapat dilihat kisi-kisi atau bayangan soal. Hal itu dimaksudkan agar audiens dapat mengetahui bentuk angket sebaran tersebut. Instrumen merupakan alat yang digunakan untuk pengambilan data. Instrumen yang digunakan untuk mengambil data dalam penelitian ini adalah angket pada siswa yang ditujukan pada siswa kelas XI SMK BM Pencawan Medan.

Untuk memenuhi persyaratan instrumen penelitian, terlebih dahulu dilakukan uji coba instrumen. Uji coba instrumen dimaksudkan untuk mengetahui  kesahihan dan keterandalan instrumen dalam penelitian. Dan uji coba dilakukan pada 30 orang siswa dengan 30 butir pertanyaan soal angket dan tes di  kelas yang sama, dengan menggunakan teknik random. Karena, kedua kelas merupakan kelas yang homogen (sama-sama menerima proses pembelajaran).

Sedangkan untuk menghitung kesahihan dan keterandalan instrumen, dihitung dengan rumus sebagai berikut:

  1. Uji Validitas Instrumen

Validitas merupakan suatu derajat ketetapan alat ukur (instrumen) tentang isi atau suatu ukuran yang menunjukkan tingkat kevalidan atau kesahihan dari suatu instrumen. Sebuah instrumen yang valid atau sahih mempunyai validitas tinggi sedangkan instrumen yang kurang valid berarti memiliki validitas rendah.[88] Sedangkan item soal yang dinyatakan valid jika hasil dari perhitungan koefisien korelasi atau ‘ r ’ hitung harus lebih besar dari ‘ r ’ tabel (r hitung > r tabel) pada taraf signifikansi 5 %. Untuk mengetahui validitas tes digunakan korelasi product moment dengan rumusan sebagai berikut:

Keterangan rumus:

=    Koefisien Korelasi antara  X dan Y

=    Jumlah seluruh produk distribusi X

=    Jumlah seluruh produk distribusi Y

=    Jumlah produk X dikwadratkan

=    Jumlah produk Y dikwadratkan

=    Jumlah perkalian X dan Y

=    Jumlah kuadrat skor X

=    Jumlah kuadrat skor Y

N           =    Jumlah data keseluruhan

  1. Uji Reliabilitas Instrumen

Reliabilitas adalah ketepatan suatu instrumen (angket) apabila diberikan pada subjek yang sama. Sehingga dengan demikian dapat disebutkan bahwa reliabilitas merupakan tingkat keterandalan soal. Untuk menentukan reliabilitas angket dipakai rumus Kuder-Richardson 20 seperti berikut ini:

Akan tetapi, sebelum menentukan harga reliabilitas data, terlebih dahulu dicari varians setiap item yang dihitung dihitung dengan rumus :

Varians total dihitung dengan rumus :

Keterangan rumus :

=     Indeks realiabilitas instrumen

K =     Banyak soal yang valid

N =     Jumlah sampel penelitian

=     Jumlah varians item

=     Varians total

Tabel 3. Klasifikasi Indeks Reliabilitas Soal

No Indeks Reliabilitas Klasifikasi
1

2

3

4

5

0,00-0,19

0,20-0,39

0,40-0,59

0,60-0,79

0,80-1,00

Reabilitas sangat rendah

Reabilitas rendah

Reabilitas sedang

Reabilitas tinggi

Reabilitas sangat tinggi[89]

  1. E. Teknik Analisis Data

Teknik analisis data jika memenuhi persyaratan analisis yaitu distribusi normal dan linier, maka akan diuji dengan statistika parametrik, dan jika tidak memenuhi persyaratan analisis maka akan digunakan statistic non parametrik. Linieritas data diuji dengan menggunakan rumus. Data yang telah dijaring dari responden  kemudian dikumpulkan untuk ditabulasi dan diolah. Dari pengolahan data yang akan didapat disimpulkan sebagai jawaban terhadap permasalahan di lapangan.

Untuk mempermudah mengetahui adanya hubungan yang linier antara konsep diri siswa dengan hasil belajar PAK siswa digunakan analisis sebagai berikut:

  1. Deskripsi Data Penelitian

Untuk mengetahui data penelitian yang telah diperoleh, maka terlebih dahulu dihitung besarnya dari data-data skor (M) dan besar dari standart deviasi (SD) dengan menggunakan  rumus sebagai berikut:

Di mana :      M     =  Mean

=  Jumlah aljabar X

N           =  Jumlah responden

Dan              S  =

Di mana :      S    =  Standart deviasi

N      =  Jumlah responden

=  Jumlah skor total distribusi X

=  Jumlah kuadrat skor total distribusi

Cara lain untuk mendeskrsipsikan data penelitian juga dapat diketahui dengan melakukan penghitungan mesin statistik, yakni aplikasi Ms. Excell. Caranya adalah dengan mengklik Tools pada kotak dialog pada komputer, lanjutkan dengan Data Analisys. Setelah kotak dialog dari Data Analisys muncul selanjutnya muncul kotak dialog Descriftive Statistic dan akhiri dengan mengklik OK.  Selanjutnya pada kotak dialog Descriftive Statistic, masukkan Input Y Range (Data Variabel Y) dan Input X Range (data Variabel X) yang ada pada tabel di atas setelah terlebih dahulu mencentang kolom summary statisticts dan kith smallest, dan akhiri dengan OK.[90]

  1. Uji Persyaratan Analisis
  1. Uji Normalitas.

Uji normalitas yang dimaksudkan untuk memeriksa apakah data variabel penelitian berdistribusi normal atau tidak. Uji normalitas dilakukan dengan menggunakan rumus Chi-Kuadrat, yaitu

Di mana :

:  Chi kuadrat

f0 : frekuensi yang diperoleh

fh : frekuensi yang diharapkan dalam sampel yang sebagai

pencerminan dari frekuensi yang diharapkan populasi.

Harga chi yang digunakan pada taraf 5 % dan derajat kebebasan sebesar jumlah kelas frekuensi dikurang satu (dk: k-1) apabila  < maka distribusi data adalah normal.

Tabel 4. Distribusi Frekuensi Skor Data Penelitian atas Dasar Kurva Normal

Kelas Interval Kelas Frekuensi Observasi (Fo) Frekuensi Relatif
1

2

3

4

5

6

M + 2SD s/d M + 3SD

M + 1SD s/d M + 2SD

M +         s/d M + 1SD

M – 1SD s/d M

M – 2SD s/d M – 1SD

M – 3SD s/d M – 2SD

Fo 1

Fo 2

Fo 3

Fo 4

Fo 5

Fo 6

Fo 1/N x 100

Fo 2/N x 100

Fo 3/N x 100

Fo 4/N x 100

Fo 5/N x 100

Fo 6/N x 100

  1. Uji Linieritas dan Keberartian Regresi

Uji linieritas dilakukan dengan uji regresi linear sederhana Y atas X.  Persamaan regresi sederhana yaitu Y = a + bx.  Untuk mencari a (bilangan konstan) dan b (bilangan koefisien predictor) :

a  =

b  =

a)      bilangan konstan atau intercept (a) dapat dicari dengan menggunakan formula:

Ketik ”INTERCEPT(Range Y:Range X)” Kemudian ENTER

b)      bilangan koefisien atau prediktor (b) dapat dicari dengan menggunakan formula:

Ketik ”FORECAST(Range Y:Range X)” Kemudian ENTER

Rumus di atas dapat dicari dengan alat bantu  komputer pada aplikasi Ms. Excell dengan cara:

Range Y : Data Variabel Y

Range X : Data Variabel X

Atau dengan cara mengklik Tools pada kotak dialog pada computer, lanjutkan dengan Data Analisys.  Setelah kotak dialog dari  Data Analisys muncul selanjutnya muncul kotak dialog regressions dan akhiri dengan mengklik OK. Kemudian terdapat kolom Coefficients dengan angka-angka sesuai dengan hasil regresi dari dua data variabel Penelitian. Inilah yang disebut dengan a dan b. Selanjutnya pada kotak dialog regressions, masukkan Input Y Range (Data Variabel Y) dan Input X Range (data Variabel X) yang ada pada tabel di atas, dan akhiri dengan OK.[91]

Selanjutnya untuk mengetahui apakah persamaan garis regresi yang diperoleh mempunyai keberartian dan linier, maka dilanjutkan dengan uji F dengan langkah-langkah berikut:

=

=

=

=

=

=

Untuk uji keberartian regresi digunakan rumus :

Bila F reg hitung > F tabel pada taraf signifikan 5 %, maka disimpulkan bahwa regresi mempunyai keberartian. Untuk uji regresi digunakan rumus: . Bila F reg hitung > F tabel pada taraf signifikansi 5 %, maka disimpulkan bahwa garis linier.

  1. Uji Kecenderungan

Untuk menguji tingkat kecenderungan hubungan kompetensi kepribadian guru terhadap minat belajar PAK siswa digunakan format kategori berdasarkan score ideal dan pembangian kelas kurva normal atas 4 kelompok sebagai berikut:

Tabel 5. Format Uji Kecenderungan

Kelas Interval Kelas F% Kategori
1 > Mi         +  1,5 SDi Sangat Tinggi
2 Mi s/d Mi  +  1,5 SDi Tinggi
3 Mi             –  1,5 SDi s/d Mi Rendah
4 < Mi          –  1,5 SDi Sangat rendah
Jumlah N 100%

  1. Pengujian  Hipotesis

Untuk menganalisis data hasil penelitian, maka dipedomanilah tabel uji normalitas data manusia-manusia variabel yang telah disusun di atas. Jika ternyata kedua harga-harga variabel tersebut memenuhi persyaratan normalitas maka digunakan rumus analisis parametrik dengan menggunakan harga kasar yang diajukan oleh Pearson sebagai berikut:

Jika salah satu persyaratan tidak terpenuhi, maka digunakan rumus statistik non parametrik dari product moment sebagai berikut:

Dimana :

rxy = Korelasi antara variabel X dan Y

= Jumlah produk harga deviasi variabel x dan variabel y

= Jumlah produk skor deviasi x2

= Jumlah produk skor deviasi y2

Untuk mengetahui signifikansi dalam ukuran % maka rumus determinasi (R)2 atau uji faktor (analisis) untuk mengetahui  ada tidaknya pengaruh secara keseluruhan variabel X terhadap variabel Y ;  atau rumus uji t untuk mengetahui secara parsial pengaruh variabel X terhadap variabel Y. Jika uji persyaratan analisis terpenuhi maka hipotesa dapat dibuktikan dengan langkah statistik parametrik, tetapi jika tidak terpenuhi maka akan dilanjutkan dengan analisis non parametrik.

Selanjutnya untuk menghtung uji t dengan menggunakan  rumus koefisien determinasi :

Keterangan :

=  Koefisien determinasi hitung

r        = Indeks korelasi (rxy)

n       = Jumlah  sample penelitian

2 =  Konstanta/ ketetapan

1 =  Konstanta/ ketetapan

r2 =  (rxy)2

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN HASIL PENELITIAN

  1. A. Deskripsi Data Hasil Penelitian

Berdasarkan penelitian yang dilakukan terhadap siswa SMK Pencawan Medan dengan melibatkan sampel penelitian sebanyak 35 orang siswa untuk mengetahui Pengaruh Variabel Kompetensi Kepribadian Guru terhadap Minat Belajar Siswa, diperoleh deskripsi data penelitian seperti pada gambar berikut:

Kompetensi Kepribadian Guru (Variabel X) Minat Belajar PAK Siswa

(Variabel Y)

Mean 81.11429 Mean 90.4
Standard Error 2.051346 Standard Error 1.191849
Median 83 Median 92
Mode 95 Mode 91
Standard Deviation 12.13592 Standard Deviation 7.051074
Sample Variance 147.2807 Sample Variance 49.71765
Kurtosis -0.58044 Kurtosis 0.243977
Skewness -0.4053 Skewness -0.81053
Range 44 Range 28
Minimum 56 Minimum 74
Maximum 100 Maximum 102
Sum 2839 Sum 3164
Count 35 Count 35

Gambar 1. Tabel Deskripsi Statistik Penelitian (Variabel X dan Variabel Y) Pada Aplikasi Ms. Excell

  1. 1. Data Penelitian Variabel Pola Asuh Orang Tua (X)

Dari hasil penelitin dengan jumlah sampel sebanyak 35 orang dan jumlah item angket untuk menjaring data tentang kompetensi kepribadian guru yang diajukan adalah sebanyak 28 butir, diperoleh bahwa data variabel ini memiliki rata-rata (M) sebesar 81.1 dan standar deviasi (S) sebesar 12.4. Dengan frekuensi penelitian seperti yang terlihat pada tabel berikut ini:

Tabel 6. Frekuensi Relatif variable penelitian Kompetensi Kepribadian Guru

Kelas Interval Kelas Frekuensi Observasi

(Fo)

Frekuensi Relatif

(Fr %)

1 105.38– 117.52 0 0
2 93.24 – 105.37 8 22.85714
3 81.10 – 93.23 12 34.28571
4 68.96 – 81.09 9 25.71429
5 56.82 – 68.95 6 17.14286
6 44.68 – 56.81 0 0
Jumlah 35 100

Dari tabel terlihat bahwa nilai tertinggi terlihat pada rentang 105.38– 117.52 dengan frekuensi observasi sebanyak 0 orang dan frekuensi relatif berkisar 0 %. Kemudian diikuti nilai pada rentang interval 93.24 – 105.37 dengan frekuensi observasi sebanyak 8 orang dan frekuensi relatif sebesar 22.85 %. Selanjutnya interval nilai pada urutan berikutnya adalah pada 81.10 –  93.23 dengan frekuensi observasi sebanyak 12 orang dan frekuensi relatif sebesar 34,28  %.

Pada urutan interval kelas nilai berikutnya terjadi pada rentang 68.96 –  81.09 dengan jumlah frekuensi obeservasi sebanyak 9 orang dan memiliki frekuensi relatif sebesar 25.71 %. Sedangkan sebanyak 6 orang memiliki nilai pada rentang 56.82 –  68.95 dengan frekuensi relatif sebesar 17.14 %. Dan rentang nilai yang terakhir berada pada kisaran nilai 44.68 –  56.81 yang dimiliki sebanyak 0 orang dan frekuensi relatif 0 %.

Untuk melihat hubungan interval kelas dengan fekuensi observasi nilai pada variabel Kompetensi Kepribadian Guru (X) dapat dilihat dari histogram berikut ini:

Gambar 2. Histogram yang Menunjukkan Hubungan antara Frekuensi Observasi dan Kelas Interval Variabel Kompetensi Kepribadian Guru di SMK Pencawan Medan

  1. 2. Data Penelitian Variabel Minat Belajar PAK Siswa (Y)

Akan halnya dengan variable X di atas, dari hasil penelitian dengan jumlah sampel sebanyak 35 orang dan jumlah item angket yang diajukan sebanyak 27 butir, diperoleh bahwa data variable Minat Belajar PAK siswa memiliki rata-rata (M) sebesar 90.4 dan standar deviasi (S) sebesar 7.05. Dengan frekuensi penelitian seperti yang terlihat pada tabel berikut:

Tabel 7. Frekuensi Relatif variable penelitian Minat Belajar PAK Siswa

Kelas Interval Kelas Frekuensi Observasi

(Fo)

Frekuensi Relatif

(Fr %)

1 104.50 – 111.60 0 0
2 97.45 – 104.49 5 14.28571
3 90.40  – 97.44 18 51.42857
4 83.35 – 90.39 8 22.85714
5 76.30 – 83.34 2 5.714286
6 69.25 – 76.29 2 5.714286
Jumlah 35 100

Dari tabel terlihat bahwa nilai tertinggi terlihat pada rentang 104.50 – 111.60 dengan frekuensi observasi sebanyak 0 orang (tidak ada jawaban) dan frekuensi relatif berkisar 0 %. Kemudian diikuti nilai pada rentang interval 97.45 – 104.49 dengan frekuensi observasi sebanyak 5 orang dan frekuensi relatif sebesar 14.28 %. Selanjutnya interval nilai pada urutan berikutnya adalah pada 90.40  – 97.44 dengan frekuensi observasi sebanyak 18 orang dan frekuensi relatif sebesar 51.42 %.

Pada urutan interval kelas nilai berikutnya terjadi pada rentang 83.35 – 90.39 dengan jumlah frekuensi obeservasi sebanyak 8 orang dan memiliki frekuensi relatif sebesar 22.85 %. Sedangkan sebanyak 2 orang memiliki nilai pada rentang 76.30 – 83.34 dengan frekuensi relatif sebesar 5.71 %. Dan rentang nilai yang terakhir berada pada kisaran nilai 69.25 – 76.29 yang dimiliki sebanyak 2 orang dan frekuensi relatif  5.71%.

Untuk melihat hubungan interval kelas dengan fekuensi observasi nilai pada variabel Hasil Belajar PAK Siswa (Y) dapat dilihat dari histogram berikut ini:

Gambar 3. Histogram yang Menunjukkan Hubungan antara Frekuensi Observasi dan Kelas Interval Variabel Minat Belajar PAK Siswa SMK Pencawan Medan

  1. B. Pengujian Persyaratan Analisis
    1. 1. Uji Normalitas

Berdasarkan hasil perhitungan uji normalitas data penenelitian pada variabel Kompetensi Kepribadian Guru (X) pada lampiran perhitungan uji normalitas data penelitian diproleh bahwa harga harga adalah sebesar 4,315. Apabila harga tersebut dibandingkan dengan  untuk taraf signifikansi 5%, yakni sebesar 11, 07 maka diperoleh bahwa < (<) dan dapat disimpulkan bahwa distribusi data Variabel Kompetensi Kepribadian Guru (X) adalah berdistribusi normal.

Sedangkan untuk perhitungan uji normalitas pada variabel Minat Belajar PAK Siswa (Y) diperoleh harga  adalah sebesar 9,24. Dan Apabila harga tersebut dibandingkan dengan  untuk taraf signifikansi 5% sebesar 11,07 maka diperoleh bahwa > (<). Dengan demikian disimpulkan bahwa data Variabel Minat Belajar Pendidikan Agama Kristen (Y) adalah berdistribusi normal.

Untuk lebih jelasnya hasil perhitungan uji normalitas pada kedua Variabel Penelitian dapat dilihat pada tabel berikut ini:

Tabel 8. Perhitungan Uji Normalitas Variabel X dan Y

Variabel  Penelitian Xhitung Xtabel Status Keterangan
Kompetensi Kepribadian Guru (X) 4,315 11.07 < Normal
Minat Belajar PAK Siswa (Y) 9,24 11.07 < Normal

  1. 2. Uji Linieritas

Sebelum dilakukan perhitungan uji linieritas dan keberartian, terlebih dahulu harus diketahui harga persamaan regresi sederhan Y= a + bx. . dari hasil perhitungan diperoleh harga a = 75,053 dan b = 0,189. Dengan demikian dapat ditulis persamaan Y= a + bx. Atau Y = 75,053 + 0,189x. selanjutnya dilakukan perhitungan uji F dengan langkah-langkah seperti pada lampiran …., barulah kemudian dilakukan perhitungan uji F untuk mengetahui uji kelinieran persamaan regresi dan uji keberartian persamaan regresi.

Dari hasil perhitungan uji F diperoleh bahwa harga F hitung pada uji kelieran persamaan regresi adalah sebesar -0.06. Dan harga F hitung pada uji keberartian persamaan regresi adalah sebesar -589.7. Dengan mengkonsultasikan  F hitung dengan F tabel dengan taraf  0,05 dk = K – 2 (db = 60) sebagai pembilang dan ( dk = 6) sebagai penyebut pada uji kelinieran persamaan regeresi diperoleh harga F tabel adalah sebesar 2,922. dengan demikian diperoleh bahwa Fhidtung <  Ftabel (0,06 < 2,922) sehingga dapat disimpulkan bahwa persamaan regresi Y = 75,053 + 0,189x adalah linier.

Sedangkan untuk uji F pada uji keberartian persamaan regresi diperoleh bahwa bahwa harga F hidtung <  F tabel (-589.7 < 3.316). Dengan demikian  diperoleh bahwa koefisien persamaan arah regresi tidak berarti. Untuk lebih jelasnya harga-harga tersebut dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel 9. Perhitungan Uji Linieritas dan Regresi Keberartian Uji Persamaan X Terhadap Y

Persamaan Regresi Fhitung Ftabel Status Keterangan
Y = 75,053 + 0,189x -0.06 2,922 < Linier
-589.7 3,316 < Tidak Berarti

  1. C. Pengujian Hipotesis

Uji hipotesis dalam penelitian ini dilakukan dengan menggunakan rumus parametrik produk moment. Hal itu dilakukan karena data dari kedua variable penelitian berdistribusi normal. Berdasarkan hasil perhitungan diperoleh bahwa korelasi (rxy) antara variable Kompetensi Kepribadian Guru (X) dengan variabel Minat Belajar PAK Siswa (Y) sebesar 0,896, dengan tingkat signifikansi hubungan antara keseluruhan variabel X terhadap Y diperoleh hasil sebesar 80 %. Selanjutnya dilanjutkan uji pengaruh untuk mengetahui seberapa besar pengaruh antara Kompetensi Kepribadian Guru (X) terhadap Minat Belajar PAK Siswa (Y). Dari hasil perhitungan diperoleh bahwa harga thitung sebesar 10.39. Jika harga tersebut dikonsultasikan dengan harga ttabel untuk taraf signifikasni 5 %, dk N-2 adalah sebesar 2,035, maka dapat disimpulkan bahwa thitung lebih besar dari ttabel (10,39 > 2,035). Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan antara Kompetensi Kepribadian Guru terhadap Minat Belajar PAK Siswa di SMK Pencawan Medan.

  1. D. Temuan Penelitian

Uji Kecenderungan

Untuk mengetahui tingkat kecenderungan dilakukan dengan bersadar pada ketetapan uji kjecenderungan, yang mengatakan bahwa apabila hasil pada dua kelas teratas lebih tinggi dibandingkan dengan hasil dua variabel terbawah, setelah sebelumnya data penelitian dibagi menjadi empat kelas dengan masing masing rentang nilai pada rentang data interval kelas.  Berdasarkan perhitungan yang dilakukan diperoleh bahwa pada variabel Kompetensi Kepribadian Guru (X), dua kelas teratas uji kecenderungan pada variabel X diperoleh bahwa 82.86 % dari 35 orang siswa yang menjadi obejek penelitian berada pada kategori baik, yakni sebanyak 29 orang. Sedangkan 2 kelas terbawah hanya mencapai 17.14 % berada pada kategori cukup dan kurang baik, yakni sebanyak 6 orang siswa. Dengan memperhatikan pencapaian hasil penelitian tersebut, maka dapat diketahui bahwa Kompetensi Kepribadian guru PAK pada SMK Pencawan Medan cenderung Baik.

Sedangkan untuk variabel Minat Belajar PAK Siswa (Y) diperoleh hasil bahwa  dari 35 orang siswa, sebanyak 100 % (35 orang) memiliki Minat Belajar PAK yang cukup baik. Sedangkan untuk kategori Minat Belajar yang tidak Baik tidak memiliki persentase (0%). Dengan demikian siswa pada SMK Pencawan Medan memiliki Minat Belajar PAK yang cenderung Baik.

Dari hasil pada kedua variabel penelitian seperti yang telah diuraikan di atas dapat disimpulkan bahwa jika siswa mengalami pembelajaran PAK dari guru yang mempunyai Kompetensi Kepribadian sebesar 82.86 %, akan cenderung berpengaruh pada minat belajar PAK siswa sebesar 100%. Dengan demikian, pada subjek penelitian sebanyak 35 orang siswa, hal ini dianggap sebagai temuan penelitian bahwa kompetensi kepribadian guru sangat berpengaruh terhadap minat belajar PAK siswa.

  1. E. Pembahasan Hasil Penelitian

Upaya untuk meningkatkan mutu pendidikan tidak terlepas dari berbagai usaha yang dilakukan oleh berbagai pihak. Salah satunya adalah dari faktor guru sebagai probadi yang sangat berperan dan bersinggungan langsung dengan peserta didik dalam proses pendidikan, yakni kegiatan belajar mengajar.

Dalam Undang-Undang Guru dan Dosen No. 14 Tahun 2005 Pada Bab IV, Padal 8 & 10 menyebutkan bahwa: ”Guru wajib memiliki kualifikasi akademik, kompetensi, sertifikat pendidik, sehat jasmani dan rohani, serta memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional. Kompetensi guru sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 meliputi kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial, dan kompetensi profesional yang diperoleh melalui pendidikan profesi.”[92] Dari ketentuan ini  terlihatn kedudukan guru sebagai sarana pendidik merupakan hal yang sangat penting untuk menunjang kelancaran pendidikan. Sedangkan seorang guru harus memiliki karekteristik dan kompetensi dalam melaksanakan tugasnya. Karakteristik yang kepribadian yang dimiliki guru mencakup kemampuan personal guru, mencakup (1) penampilan sikap yang positif terhadap keseluruhan tugasnya sebagai guru, dan terhadap keseluruhan situasi pendidikan beserta unsur-unsurnya, (2) pemahaman, penghayatan dan penampilan nilai-nilai yang seyogyanya dianut oleh seorang guru, (3) kepribadian, nilai, sikap hidup ditampilkan dalam upaya untuk menjadikan dirinya sebagai panutan dan teladan bagi para siswanya.

Dalam kaitannya dengan minat siswa untuk mengikuti pembelajaran, keberadaan guru sangat memberikan pengaruh. Salah satunya  adalah rasa ketertarikan siswa terhadap pribadi guru (attraksi interpersonal). Maksudnya adalah untuk memacu minat siswa dalam hal belajar sebagai upaya untuk mengembangkan pendidikan guru diharapkan untuk memiliki kompetensi. khususnya kompetensi kepribadian. Minat belajar siswa merupakan hal utama yang dibutuhkan dalam keberlangsungan pembelajaran. Kompetensi kepribadian yang dimaksud merupakan kemampuan personal yang mencerminkan kepribadian yang mantap, stabil, dewasa, arif, dan berwibawa, menjadi teladan bagi peserta didik, dan berakhlak mulia untuk membuat siswa terangsang dalam hal menyerap apa yang disampaikan oleh guru. Sebagaimana lazimnya seorang guru, maka guru PAK juga harus memiliki kompetensi kepribadian seperti yang dimaksud di atas. Dengan kata lain kompetensi kepribadian guru adalah kompetensi personal seorang guru , yaitu kemampuan pribadi seorang guru yang diperlukan agar dapat menjadi guru yang baik. Kompetensi personal ini mencakup kemampuan pribadi yang berkenaan dengan pemahaman diri, penerimaan diri, pengarahan diri, dan perwujudan diri. Artinya keseluruhan kemampuan yang berhubungan dengan kepribadian guru merupakan aspek penting dan salah satu factor yang mampu mempengaruhi minat siswa dalam mengikuti pembelajaran.

Sehubungan dengan hal di atas, untuk mengetahui dan memperjelas  pengruh kompetensi kepribadian guru PAK terhadap Minat Belajar PAK Siswa, diadakanlah sebuah penelitian di lingkungan SMK BM Pencawan Medan. Penelitian ini hanya ditujukan kepada siswa sebagai sumber informasi mengenai kedua variabel tersebut. Hasilnya adalah bahwa penelitian menunjukkan adanya korelasi antara Kompetensi Kepribadian Guru terhadap Minat Belajar PAK (rxy), sebesar 0,896 atau sekitar (rxy2) 80 %. Dan pengaruh antara variabel X terhadap variabel Y adalah sebesar (thitung) 10, 35, yang jika dibandingkan dengan ketetapan pada ttabel adalah sebesar 2,035. Hal ini berarti bahwa thitung lebih besar dari ttabel (10,39 > 2,035). Kemudian berdasarkan uji kecenderungan terlihat bahwa 82,86% siswa yang mengalami Kompetensi Kepribadian Guru yang baik akan cenderung menghasilkan Minat Belajar PAK Siswa Sebesar 100%. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa Kompetensi Kepribadian Guru akan sangat mempengaruhi Minat Belajar PAK Siswa. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan antara Kompetensi Kepribadian Guru Terhadap Minat Belajar PAK Siswa di SMK BM Pencawan Medan T.P. 2009/2010. Dengan kata lain hipotesis yang diajukan pada bab sebelumya dapat diterima.

BAB V

PENUTUP

  1. A. KESIMPULAN

Berdasrkan uraian dari Bab 1-Bab IV, dan dari hasil perhitungan statistik penelitian yang dilakukan terhadap 35 orang siswa pada siswa SMK BM Pencawan Medan T.P. 2009/2010 dengan menggunakan angket sebanyak 28 danb 27 butir untuk menjaring data pada variabel kedua variabel dengan menggunakan optrions berdasarkan Skala Likert, diperoleh kesimpulan bahwa:

  1. Uji korelasi antara Varibael X dengan Variabel Y (rxy) berdasarkan uji parametrik product moment diperoleh hasil sebesar 0,896 dan nilai signifikasi korelasi (rxy2) antara kedua variabel adalah sebesar 0,80 atau setara dengan 80 % menunjukkan adanya pengaruh yang signifikan antara variabel bebas (X) terhadap variabel terikat (Y).
  2. Uji Kompetensi Kepribadian Guru (X) terhadap Minat Belajar PAK Siswa (Y) yang diperoleh dengan menggunakan  rumus koefisien determinasi (uji t), menunjukkan hasil yang diperoleh pada thitung adalah sebesar 10,39. Sehingga terlihat bahwa adanya pengaruh antara variabel bebas (X) terhadap variabel terikat (Y)
  3. Nilai uji kecenderungan yang menyatakan bahwa bahwa 82,86% siswa yang mengalami Kompetensi Kepribadian Guru yang baik akan cenderung menghasilkan Minat Belajar PAK Siswa Sebesar 100%. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa Kompetensi Kepribadian Guru akan sangat mempengaruhi Minat Belajar PAK Siswa
  1. B. SARAN

Dengan melihat hasil penelitian berdasarkan uraian dan kesimpulan yang diperoleh dalam penelitian dengan ini penulis memberikan saran khususnya kepada guru PAK sebagai sumber informasi belajar PAK dalam pertemuan di kelas agar:

  1. Sebaiknya meningkatkan kompetensi kepribadiannya, yang mencakup kearifan, wibawa, teladan hidup yang akan menjadi contoh bagi siswa dan mampu menarik perhatian siswa. Jika demikian, siswa akan memiliki rasa ketertarikan untuk mengikuti apa yang disampaikan guru
  2. Sebagai guru PAK, hendaknya menunjukkan nilai-nilai kristiani baik ketika berhubungan langsung dengan siswa maupun jika berada di luar tatp muka dengan siswa. Karena hal itu merupakan bagian dari kepribadian yang akan mempengaruhi sikap dan keputusan siswa.
  3. Selalu menunjkkan sikap yang baik di kelas, selama kegiatan pembelajaran berlangsung. Karena hal ini akan cenderung berdampak baik pada keberadaan siswa di kelas. Artinya, jika guru semakin menunujukkan kepribadian baik, dengan sendirinya siswa akan menunjukkan minat belajar yang baik.

DAFTAR PUSTAKA

Anwar Qomari. Reorientasi Pendidikan Dan Profesi Keguruan, Jakarta : Uhamka Press, 2004

Agus Sujanto. 1984. Psikologi Perkembangan, Jakarta: Aksara

_______. 1979.Psikologi Umum, Jakarta: Aksara Baru

Bimo Walgito. 1981. Bimbingan Dan Penyuluhan di Sekolah, Yogyakarta : Fakultas Psykologi UGM

Depdiknas. 2005. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2005 Tentang Guru dan Dosen, Jakarta:Depdiknas

Dimyati &Mudjiono. 2006. Belajar dan Pembelajaran, Jakarta: Rineka Cipta

Dirto Hadi Susanto.1987. Pendidikan dan Masalah-Masalahnya, Jakarta: Fakultas Ilmu Pendidikan

Eka Mulyasa. 2008. Standar Kompetensi dan Sertifikasi Guru Cet. Ke-3, Bandung: Remaja Rosda Karya

E. Usman Efendi. 1984. Pengantar Psikologis, Bandung: Angkasa

Fo’atora Telaumbanua. 2005. Pengolahan Data Penelitian Perbandingan Dan Hubungan, Jakarta: FKIP – UKI

Gie. 1983. Metode Belajar dan Kesulitan Belajar, Bandung : Tarsito

H. Fuad Ihsan. 2003. Dasar-Dasar Kependidikan,Jakarta: Rineka Cipta

Husaini Usman dan Purnomo Setiady Akbar. 1996. Metedologi Penelitian Sosial,  Jakarta : Bumi Aksara

Jonh Looke Singgih Cumarad. 1981. Psikologi Perkembangan, Jakarta: BPK-G. Mulia

Judith. J.H & Raymond. J.W. 2004. Hasrat Untuk Belajar. Jogjakarta : Pustaka Pelajar

Kartini Kartono.1 980. Psikologi Umum, Jakarta: Kosgoro

_______.  1986. Teori Kepribadian, Jakarta: Kosgoro

Syaiful Bahri Djamarah. 2000. Guru dan Anak Didik dalam Interaksi Edukatif, Jakarta: Rineka Cipta

Mohammad Ali. 1985. Prosedur dan Strategi Penelitian Pendidikan, Bandung : Aksara

_______ 1997, Penelitian Pendidikan dan Strategi. Bandung: Angkasa

Muhibbin Syah. 2003. Psikologi Pembelajaran dan Pengajaran. Bandung: Yayasan Bhakti Winaya

_______.2000. Psikologi Pendidikan Suatu Pendekatan Baru, Bandung: Remaja Rosdakarya

M Ridwan 2005. Belajar Mudah Penelitian Untuk Guru karya dan Penelitian Pemula, Bandung:Alfa Beta

MC Donal dalam Wasti Sumanto. 1996. Psikologi Pendidikan, Jakarta :Bina Karsa

MP. Silitonga. 2009. Modul Metodologi Penelitian Pendidikan, Medan:  IAKPSU

Neugroho. 1982. Penelitian Terapan, Yogyakarta: Fakultas Psikologi Universitas Gajah Mada

Ngalim Purwanto. 2003. Psikologi Pendidikan, Bandung: Remaja Rosdakarya

Zakiah Daradjat .1989. Kesehatan Mental, Jakarta: Haji Masagung

Rachmadi Widdiharto,  Kepribadian Guru, Yogyakarta : Pusat Pengembangan Dan Pemberdayaan Pendidikan Dan Tenaga Kependidikan, 2008

Rochman Natawidjaja, Psikologi Perkembangan, Jakarta: CV Mutiara, 1979

Poerbawatja Suganda, Ensiklopedii Pendidikan, Jakarta : Gunung Agung, 1982

Slameto. 2003. Belajar dan faktor-faktor yang mempengaruhinya, Jakarta : Rineka Cipta,

Singgih D. Gunarsa. 1981. Psikologi untuk Keluarga, Jakarta: BPK-G. Mulia

_______ 1988. Psikologi Perawatan, Jakarta: BPK- G. Mulia

Soerkawarti. 1995. Meningkatkan Efektifitas Mengajar, Jakarta: Pustaka Jaya

SudarwanDanim. 2002. Inovasi Pendidikan Dalam Upaya Peningkatan Profesionalisme Tenaga Kependidikan. Bandung:  CV Pustaka Setia

Sudarmoto. 1995. Cara Belajar, Jakarta: BPK-G. Mulia

Suharsimi Arikunto. 1993. Manajemen Pengajaran Secara Manusia. Jakarta: Rineka Cipta

_______ 2005. Prosedur Penelitian, Jakarta: Rineka Cipta

_______. 2003Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan, Jakarta: Bumi Aksara

S. Soeto, Praktek Keguruan, Bandung: Angkasa, 1976

Thamrin Nasution, 1984. Membangkitkan Minat Belajar, Madju, Jakarta-Medan-Bandung

Thomas dan S. Nasution. 1980. Penuntun Membuat Skripsi, Bandung : TP

Uzer Usman. 1997. Menjadi Guru Profesional (Edisi Kedua), Bandung:  Remaja Rosdakarya

Wayan Nurkancana. 1983. Evaluasi Pendidikan, Surabaya: Usaha Nasional

Winarno Surakhmad. 1982. Bimbingan Penyuluhan, Jakarta: PT. Gajah Mada

WS. Winkel. 1982. Psikologi Perkembangan, Jakarta: Gramedia

Yusuf, Syamsu. 2001. Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja. Bandung : PT Remaja Rosdakarya

Yudo Wibowo. 1999. Penuntun Guru Agama Kristen. Jakarta BPK.G.Mulia

Zakiah Daradjat.1989. Kesehatan Mental, Jakarta: Haji Mas Agung

LAMPIRAN

LAMPIRAN 1.

INSTRUMEN ANGKET

KOMPETENSI KEPRIBADIAN GURU PAK

Sekolah           : SMK – Bisnis Manajemen Pencawan

Kelas               : XI

Semester          :  I (Ganjil)

T.P                   : 2009/2010

PETUNJUK :

  1. Berilah jawaban anda dengan sebenar-benarnya!
  2. Jawablah soal dibawah ini dengan memberi tanda silang (X) pada pertanyaan a, b, c, atau d.
  3. Anda tidak perlu menuliskan identitas diri anda (nama, alamat, dll) pada lembaran pertanyaan ini.
  4. Jawaban anda tidak mempengaruhi nilai PAK anda!
  5. SS = Sangat Setuju / Sangat Sering, S = Setuju / Sering, TS = Tidak Setuju / Tidak Sering, dan STS = Sangat tidak Setuju / Sangat Tidak Sering.

Quisioner!

  1. Kompetensi kepribadian seorang guru PAK harus sesuai dengan nilai-nilai Kristiani.
    1. SS                                         c.   TS
    2. S                                            d.   STS
    3. Kompetensi kepribadian guru PAK memberikan kontribusi yang positif terhadap kepribadian siswa.
      1. SS                                         c.   TS
      2. S                                            d.   STS
      3. Guru PAK memiliki kompetensi kepribadian yang baik mampu mengatasi masalah-masalah yang ada dalam proses belajar mengajar.
        1. SS                                         c.   TS
        2. S                                            d.   STS
        3. Kompetensi kepribadian guru PAK adalah seorang guru yang memiliki kepribadian yang mantap dan stabil.
          1. SS                                         c.   TS
          2. S                                            d.   STS
          3. Kompetensi guru PAK diterapkan hanya dilingkungan sekolah.
            1. SS                                         c.   TS
            2. S                                            d.   STS
            3. Guru PAK harus menyajikan PAK yang relevan dengan kehidupan sehari-hari siswa.
              1. SS                                         c.   TS
              2. S                                            d.   STS
              3. Seorang guru PAK dapat menjadi teladan bagi peserta didik disekolah.
                1. SS                                         c.   TS
                2. S                                            d.   STS
                3. Guru PAK yang menguasai materi pembelajaran memiliki pengaruh dalam mengajar
                  1. SS                                         c.   TS
                  2. S                                            d.   STS
                  3. Seorang guru PAK harus memiliki konsistensi dalam bertindak sesuai dengan norma.
                    1. SS                                         c.   TS
                    2. S                                            d.   STS
                    3. Seorang guru PAK harus memiliki kepribadian yang dewasa
                      1. SS                                         c.   TS
                      2. S                                            d.   STS
                      3. Seorang guru harus memiliki kompetensi kepribadian sudah dapat dikatakan efektif dalam mengajar.
                        1. SS                                         c.   TS
                        2. S                                            d.   STS
                        3. Seorang guru PAK yang memiliki kompetensi kepribadian yang baik akan menghasilkan siswa yang berkompetensi.
                          1. SS                                         c.   TS
                          2. S                                            d.   STS
  1. Seorang guru PAK harus memiliki kepribadian yang arif.
    1. SS                                         c.   TS
    2. S                                            d.   STS
    3. Guru PAK bertindak sesuai dengan norma hukum.
      1. SS                                         c.   TS
      2. S                                            d.   STS
      3. Seorang guru PAK memiliki kepribadian yang dewasa.
        1. SS                                         c.   TS
        2. S                                            d.   STS
        3. Seorang guru PAK memiliki kepribadian menjadi teladan bagi peserta didik.
          1. SS                                         c.   TS
          2. S                                            d.   STS
          3. Seorang guru PAK memiliki kepribadian yang berakhlak mulia.
            1. SS                                         c.   TS
            2. S                                            d.   STS
            3. Kepribadian yang berwibawa mengandung makna bahwa seorang guru harus memiliki perilaku yang berpengaruh positif terhadap peserta didik.
              1. SS                                         c.   TS
              2. S                                            d.   STS
              3. Seorang guru PAK harus bertindak sesuai dengan norma sosial.
                1. SS                                         c.   TS
                2. S                                            d.   STS
                3. Seorang guru PAK memiliki perilaku yang diteladani oleh peserta didik.
                  1. SS                                         c.   TS
                  2. S                                            d.   STS
                  3. Seorang guru harus bangga sebagai pendidik.
                    1. SS                                         c.   TS
                    2. S                                            d.   STS
                    3. Kepribadian yang mantap dari sosok seorang guru akan memberikan teladan yang baik terhadap anak didik maupun masyarakat, sehingga guru akan tampil sebagai sosok yang patut ditiru.
                      1. SS                                         c.   TS
                      2. S                                            d.   STS
                      3. Kepribadian yang berwibawa memiliki perilaku yang disegani.
                        1. SS                                         c.   TS
                        2. S                                            d.   STS
                        3. Guru PAK harus menunjukkan keteladanan baik dalam sikap maupun tingkah lakunya pada siswa / i dalam melakukan proses belajar mengajar.
                          1. SS                                         c.   TS
                          2. S                                            d.   STS
                          3. Kekakuan mengajar guru PAK merupakan kompetensi kepribadian yang kurang baik.
                            1. SS                                         c.   TS
                            2. S                                            d.   STS
                            3. Seorang guru PAK harus menunjukkan keterbukaan dalam berpikir dan bertindak.
                              1. SS                                         c.   TS
                              2. S                                            d.   STS
                              3. Kompetensi kepribadian guru PAK harus disejajarkan dengan kompetensi kognitif.
                                1. SS                                         c.   TS
                                2. S                                            d.   STS
                                3. Keberhailan siswa dalam membentuk kepribadian siswa bergantung kepada kompetensi kepribadian guru dalam mengajar.
                                  1. SS                                         c.   TS
                                  2. S                                            d.   STS
                                  3. Seorang guru menjadi teladan bagi siswa
                                    1. SS                                         c.   TS
                                    2. S                                            d.   STS
                                    3. Seorang guru PAK harus bertindak sesuai dengan norma hukum.
                                      1. SS                                         c.   TS
                                      2. S                                            d.   STS

LAMPIRAN 2.

INSTRUMEN ANGKET

MINAT BELAJAR PAK

Sekolah           : SMK – Bisnis Manajemen Pencawan

Kelas               : XI

Semester          :  I (Ganjil)

T.P                   : 2009/2010

PETUNJUK :

  1. Berilah jawaban anda dengan sebenar-benarnya!
  2. Jawablah soal dibawah ini dengan memberi tanda silang (X) pada pertanyaan a, b, c, atau d.
  3. Anda tidak perlu menuliskan identitas diri anda (nama, alamat, dll) pada lembaran pertanyaan ini.
  4. Jawaban anda tidak mempengaruhi nilai PAK anda!
  5. SS = Sangat Setuju / Sangat Sering, S = Setuju / Sering, TS = Tidak Setuju / Tidak Sering, dan STS = Sangat tidak Setuju / Sangat Tidak Sering.

Quisioner!

  1. Seorang guru harus memiliki perhatian bagi peserta didik.
    1. SS                                         c.   TS
    2. S                                            d.   STS
    3. Guru harus memberi motivasi bagi siswa dalam sikap pembelajaran di dalam kelas.
      1. SS                                         c.   TS
      2. S                                            d.   STS
      3. Perhatian seorang guru dapat membuat siswa jadi bersemangat untuk belajar.
        1. SS                                         c.   TS
        2. S                                            d.   STS
        3. Pengajaran yang diberikan oleh guru PAK di sekolah mengubah pola pikir siswa..
          1. SS                                         c.   TS
          2. S                                            d.   STS
          3. Agar siswa dapat belajar dengan baik, guru berusaha membuat bahan pelajaran selalu  menarik perhatian dengan cara mengusahakan pelajaran itu sesuai dengan hobbi atau bakatnya.
            1. SS                                         c.   TS
            2. S                                            d.   STS
            3. Siswa yang memiliki minat terhadap subjek tertentu cenderung untuk memberikan perhatian yang lebih besar terhadap subjek tertentu.
              1. SS                                         c.   TS
              2. S                                            d.   STS
              3. Dalam pengajaran Agama Kristen yang diberikan disekolah untuk bersikap positif dalam segala hal
                1. SS                                         c.   TS
                2. S                                            d.   STS
                3. Kemampuan mengelola kelas oleh guru pak ketika mengajar memiliki sikap positif dalam segala hal.
                  1. SS                                         c.   TS
                  2. S                                            d.   STS
                  3. Dalam pengajaran pak disekolah, guru agama mendidik siswa tentang  perilaku remaja Kristen yang baik.
                    1. SS                                         c.   TS
                    2. S                                            d.   STS
                    3. Setelah menerima pengajaran dari guru Pak sudah pasti mngubah minat siswa.
                      1. SS                                         c.   TS
                      2. S                                            d.   STS
                      3. Setelah belajar PAK siswa mengetahui nilai-nilai Kristiani untuk diterapkan dalam hidup sehari-hari.
                        1. SS                                         c.   TS
                        2. S                                            d.   STS
                        3. Setelah belajar PAK apakah saudara sering membaca Alkitab dirumah
                          1. SS                                         c.   TS
                          2. S                                            d.   STS
                          3. Pembelajaran PAK diberikan disekolah mempunyai pengaruh dalam pembentukan minat diri siswa yang positif.
                            1. SS                                         c.   TS
                            2. S                                            d.   STS
                            3. Dengan belajar PAK disekolah apakah ada manfaatnya bagi siswa.
                              1. SS                                         c.   TS
                              2. S                                            d.   STS
                              3. Pembelajaran PAK yang disajikan guru terapkan didalam kehidupan sehari-hari siswa.
                                1. SS                                         c.   TS
                                2. S                                            d.   STS
                                3. Pengajaran PAK yang disajikan oleh guru PAK mengubah cara berpikir siswa.
                                  1. SS                                         c.   TS
                                  2. S                                            d.   STS
                                  3. Sebagai pelajar selalu patuh kepada nasehat dan perintah guru disekolah.
                                    1. SS                                         c.   TS
                                    2. S                                            d.   STS
                                    3. Pengajaran Pak disekolah mengajak siswa agar menjadikan Kristus sebagai teladan dalam hidupnya.
                                      1. SS                                         c.   TS
                                      2. S                                            d.   STS
                                      3. Dalam halnya, dimana keinginan yang ada dalam diri siswa akan memberi dorongan baginya untuk lebih aktif terhadap pelajaran sehingga boleh dikatakan bahwa dengan adanya minat dan keinginan untuk belajar maka materi pelajaran akan mudah dipahami siswa.
                                        1. SS                                         c.   TS
                                        2. S                                            d.   STS
                                        3. Tujuan mempunyai hubungan erat dengan minat, apabila siswa mempunyai minat belajar maka hal itu akan mudah untuk memperoleh hasil yang diharapkan dari pelajaran itu karena sudah mengikutinya.
                                          1. SS                                         c.   TS
                                          2. S                                            d.   STS
                                          3. Kecenderungan merupakan suatu sikap condong untuk melakukan perbuatan yang aktif kapada suatu objek dengan sikap cenderung itu maka sikap siswa akan nampak kearah mana kesukaan hatinya.
                                            1. SS                                         c.   TS
                                            2. S                                            d.   STS
                                            3. Pembelajaran PAK disekolah memberi gambaran tentang yang harus saudara hadapi sebagai remaja Kristen dimasa mendatang.
                                              1. SS                                         c.   TS
                                              2. S                                            d.   STS
                                              3. Kecenderungan merupakan sikap yang timbul oleh adanya minat terhadap pelajaran.
                                                1. SS                                         c.   TS
                                                2. S                                            d.   STS
                                                3. Tugas yang diberikan oleh guru PAK disekolah selalu dikerjakan dengan baik oleh siswa.
                                                  1. SS                                         c.   TS
                                                  2. S                                            d.   STS
                                                  3. Dalam pengajaran agama Kristen yang diberikan disekolah siswa diajar untuk bersikap jujur dan setia dalam segalahal.
                                                    1. SS                                         c.   TS
                                                    2. S                                            d.   STS
                                                    3. Guru dapat menimbulkan minat dan semangat belajar bagi siswa-siswinya melalui mata pelajaran yang diajarkannya.
                                                      1. SS                                         c.   TS
                                                      2. S                                            d.   STS
                                                      3. Melalui pembelajaran PAK disekolah siswa diajarkan untuk dapat menghargai teman yang berbeda keyakinan.
                                                        1. SS                                         c.   TS
                                                        2. S                                            d.   STS
                                                        3. Dalam pemikiran anda dengan diadakannya sebuah perlombaan bertujuan untuk mendorong semangat belajar agar prestasi belajar siswa semakin baik.
                                                          1. SS                                         c.   TS
                                                          2. S                                            d.   STS
                                                          3. Faktor lingkungan adalah salah satu factor yang mempengaruhi minat belajar siswa.
                                                            1. SS                                         c.   TS
                                                            2. S                                            d.   STS
                                                            3. Usaha guru dalam meningkatkan minat belajar  siswa dengan cara membantu masalah yang dihadapi siswa dalam menyokong masa depan yang  lebih baik.
                                                              1. SS                                         c.   TS
                                                              2. S                                            d.   STS

LAMPIRAN 3.

LAMPIRAN 4.

LAMPIRAN 5.

PERHITUNGAN UJI COBA INSTRUMEN PENELITIAN

  1. 1. Uji Validitas Butir Angket

1.1. Kompetensi Kepribadian Guru (Variabel X)

Butir Soal No. 1

Harga Statistik :

∑X      : 80                              ∑Y      : 2491

∑(X)2 : 226 ∑(Y)2 : 6205081

∑X2 : 6400 ∑Y2 : 210971

∑XY   : 6845                          N         : 30

Rumus:

(dibulatkan menjadi 0.89)

Berdasarkan hasil perhitungan di atas, jika harga tersebut dikonsultasikan dengan harga rtabel pada taraf keprcayaan 5% untuk sampel sebanyak 30 orang, yakni 0,361 (lihat table 10), maka butir angket nomor 1 variabel X dinyatakan memenuhi syarat (valid). Dimana harga rhitung > rtabel (0,89 > 0,361)

Tabel 10. Product Moment

N Taraf Signif N Taraf Signif N Taraf Signif
5% 1% 5% 1% 5% 1%
3 0.997 0.999 27 0.381 0.487 55 0.266 0.345
4 0.950 0.990 28 0.374 0.478 60 0.254 0.330
5 0.878 0.959 29 0.367 0.470 65 0.244 0.317
6 0.811 0.917 30 0.361 0.463 70 0.235 0.306
7 0.754 0.874 31 0.355 0.456 75 0.227 0.296
8 0.707 0.834 32 0.349 0.449 80 0.220 0.286
9 0.666 0.798 33 0.344 0.442 85 0.213 0.278
10 0.632 0.765 34 0.339 0.436 90 0.207 0.270
11 0.602 0.735 35 0.334 0.430 95 0.202 0.263
12 0.576 0.708 36 0.329 0.424 100 0.195 0.256
13 0.553 0.684 37 0.325 0.418 125 0.176 0.230
14 0.532 0.661 38 0.320 0.413 150 0.159 0.210
15 0.514 0.641 39 0.316 0.408 175 0.148 0.194
16 0.497 0.623 40 0.312 0.403 200 0.138 0.181
17 0.482 0.606 41 0.308 0.398 300 0.113 0.148
18 0.468 0.590 42 0.304 0.393 400 0.098 0.128
19 0.456 0.575 43 0.301 0.389 500 0.088 0.115
20 0.444 0.561 44 0.297 0.384 600 0.080 0.105
21 0.433 0.549 45 0.294 0.380 700 0.074 0.097
22 0.423 0.537 46 0.291 0.376 800 0.070 0.091
23 0.413 0.526 47 0.288 0.372 900 0.065 0.086
24 0.404 0.515 48 0.284 0.368 1000 0.062 0.081
25 0.396 0.505 49 0.281 0.364
26 0.388 0.496 50 0.279 0.361

Kemudian, dengan menggunakan teknik penghitungan yang sama dan dengan dibantu oleh alat penghitungan pada Aplikasi Microsoft Excell 2010, maka dapat diketahui harga masing-masing validitas butir setiap instrumen angket pada table berikut ini:

Tabel 11. Uji Validitas Butir Soal Instrumen Angket Kompetensi Kepribadian Guru PAK

Butir Soal Rtabel (5%) Rhitung (Rxy) Status Keterangan
1 0.361 0.884 Valid Memenuhi Syarat
2 0.361 0.879 Valid Memenuhi Syarat
3 0.361 0.835 Valid Memenuhi Syarat
4 0.361 0.502 Valid Memenuhi Syarat
5 0.361 0.201 Tidak Valid Gugur
6 0.361 0.814 Valid Memenuhi Syarat
7 0.361 0.813 Valid Memenuhi Syarat
8 0.361 0.786 Valid Memenuhi Syarat
9 0.361 0.739 Valid Memenuhi Syarat
10 0.361 0.809 Valid Memenuhi Syarat
11 0.361 0.685 Valid Memenuhi Syarat
12 0.361 0.673 Valid Memenuhi Syarat
13 0.361 0.683 Valid Memenuhi Syarat
14 0.361 0.657 Valid Memenuhi Syarat
15 0.361 0.652 Valid Memenuhi Syarat
16 0.361 0.613 Valid Memenuhi Syarat
17 0.361 0.006 Tidak Valid Gugur
18 0.361 0.568 Valid Memenuhi Syarat
19 0.361 0.752 Valid Memenuhi Syarat
20 0.361 0.717 Valid Memenuhi Syarat
21 0.361 0.816 Valid Memenuhi Syarat
22 0.361 0.579 Valid Memenuhi Syarat
23 0.361 0.651 Valid Memenuhi Syarat
24 0.361 0.593 Valid Memenuhi Syarat
25 0.361 0.696 Valid Memenuhi Syarat
26 0.361 0.566 Valid Memenuhi Syarat
27 0.361 0.505 Valid Memenuhi Syarat
28 0.361 0.642 Valid Memenuhi Syarat
29 0.361 0.465 Valid Memenuhi Syarat
30 0.361 0.746 Valid Memenuhi Syarat

1.2. Minat Belajar PAK (Variabel Y)

Butir Soal No. 1

Berdasarkan data penelitian pada tabulasi uji validitas Variabel Kompetensi Kepribadian Guru (X) pada lampiran .. diketahui harga belanja statitik data pada angekt butir No. 1 sebagai berikut:

∑X      : 85                              ∑Y      : 2576

∑(X)2 : 257 ∑(Y)2 : 6635776

∑X2 : 7225 ∑Y2 : 225146

∑XY   : 7458                          N         : 30

Penyelesaian:

Rumus:

(dibulatkan menjadi 0.63)

Dari hasil perhitungan di atas, jika harga tersebut dikonsultasikan dengan harga rtabel pada taraf keprcayaan 5% untuk sampel sebanyak 30 orang, yakni 0,361, maka butir angket nomor 1 variabel Y dinyatakan memenuhi syarat (valid). Dimana harga rhitung > rtabel (0,63 > 0,361).

Kemudian, dengan menggunakan teknik penghitungan yang sama dan dengan dibantu oleh alat penghitungan pada Aplikasi Microsoft Excell 2010, maka dapat diketahui harga masing-masing validitas butir setiap instrumen angket pada table berikut ini:

Tabel 12. Uji Validitas Butir Soal Instrumen Angket Minat Belajar PAK Siswa

Butir Soal Rtabel (5%) Rhitung (Rxy) Status Keterangan
1 0.361 0.63 Valid Memenuhi Syarat
2 0.361 0.256 Tidak Valid Gugur
3 0.361 0.82 Valid Memenuhi Syarat
4 0.361 0.576 Valid Memenuhi Syarat
5 0.361 0.616 Valid Memenuhi Syarat
6 0.361 0.754 Valid Memenuhi Syarat
7 0.361 0.535 Valid Memenuhi Syarat
8 0.361 0.795 Valid Memenuhi Syarat
9 0.361 0.735 Valid Memenuhi Syarat
10 0.361 0.653 Valid Memenuhi Syarat
11 0.361 0.699 Valid Memenuhi Syarat
12 0.361 0.548 Valid Memenuhi Syarat
13 0.361 0.607 Valid Memenuhi Syarat
14 0.361 0.681 Valid Memenuhi Syarat
15 0.361 0.622 Valid Memenuhi Syarat
16 0.361 0.579 Valid Memenuhi Syarat
17 0.361 0.63 Valid Memenuhi Syarat
18 0.361 0.825 Valid Memenuhi Syarat
19 0.361 0.543 Valid Memenuhi Syarat
20 0.361 0.51 Valid Memenuhi Syarat
21 0.361 0.181 Tidak Valid Gugur
22 0.361 0.622 Valid Memenuhi Syarat
23 0.361 -0.007 Tidak Valid Gugur
24 0.361 0.629 Valid Memenuhi Syarat
25 0.361 0.766 Valid Memenuhi Syarat
26 0.361 0.398 Valid Memenuhi Syarat
27 0.361 0.444 Valid Memenuhi Syarat
28 0.361 0.633 Valid Memenuhi Syarat
29 0.361 0.375 Valid Memenuhi Syarat
30 0.361 0.716 Valid Memenuhi Syarat

Dari hasil perhitungan uji coba instrument penelitian di atas, baik uji validitas butir dan uji reliabilitas angket diperoleh dan ditetapkan bahwa jumlah angket yang digunakan untuk penelitian adalah: untuk variabel X sebanyak 28 butir dan untuk variabel Y sebanyak 27 butir.

  1. 2. Uji Reliabilitas Angket

2.1. Variabel X (Kompetensi Kepribadian Guru)

Rumus:

Sebelum dicari Rii variabel X secara keseluruhan, terlebih dahulu dicari variansi masing-masing dari setiap butir soal angket, lalu kemudian variansi total dengan menggunakan rumus seperti pada bab sebelumnya.

Cara untuk mencari variansi item dengan cara manual adalah sebagai berikut:

Variansi Butir Angket No. 1

(dibulatkan menjadi 0.44)

Dengan menggunakan aplikasi komputer Ms. Excell dapat dihitung dengan cara mengetik =VAR(number1:number30) pada kolom item, misalnya kolom item 1, item 2, dan seterusnya. Lalu tekan ”ENTER”. Untuk butir angket nomor 1, akan mungcul jumlah variansi sebesar 0.4368.

Sedangkan untuk mencari variansi total dengan cara manual dapat dicari dengan menggunakan rumus berikut:

(dibulatkan menjadi 142,6)

Hampir sama dengan mencari variansi butir, variansi total juga dapat dihitung dengan menggunakan aplikasi komputer Ms. Excell. Caranya dengan mengetik =VAR(number1:number30) pada kolom jumlah total seluruh item, LALU tekan ”ENTER”, maka akan muncul jumlah sebesar 142,5851.

Berdasarkan perhitungan variansi butir pada tabel analisis data validitas butir soal, diketahui harga masing-masing variansi butir dan variansi total angket seperti yang tertera pada tabel berikut:

Tabel 13. Variansi Butir dan Variansi Total Variabel X

Butir Variansi Butir

()

Variansi Total

()

1 0.44 142.6
2 0.30
3 0.35
4 0.56
Gugur
6 0.22
7 0.34
8 0.42
9 0.39
10 0.52
11 0.33
12 0.29
13 0.27
14 0.32
15 0.42
16 0.24
Gugur
18 0.23
19 0.3
20 0.23
21 0.44
22 0.52
23 0.44
24 0.48
25 0.53
26 0.45
27 0.34
28 0.34
29 0.48
30 0.53
Jumlah 10.715

Setelah angka-angka tersebut pada tabel di atas diperoleh, kemudian dimasukkan ke dalam rumus KR.20, sehingga:

, dibulatkan menjadi 0.96

Sebuah instrumen angket dikatakan reliabel apabila harga rii hitung yang diperoleh adalah > 0.50. berdasarkan hasil perhitungan di atas diperoleh harga rii sebesar 0,96. Jika harga tersebut dikonsultasikan dengan harga tabel uji reliabilitas, maka angket pada variabel X dikategorikan memiliki Reliabilitas Sangat Tinggi.

2.2. Minat Belajar PAK Siswa (Variabel Y)

Rumus:

Sebelum dicari Rii variabel Y secara keseluruhan, terlebih dahulu dicari variansi masing-masing dari setiap butir soal angket, lalu kemudian variansi total dengan menggunakan rumus seperti pada bab sebelumnya.

Dengan menggunakan cara manual seperti pada rumus variabel X, dan dengan dibantu alat hitung pada Aplikasi Microsof Excell, maka variansi butir dan variansi total variabel Y dapat diketahui seperti pada tabel berikut:

Tabel 14. Variansi Butir dan Variansi Total Variabel Y

Butir Variansi Butir

()

Variansi Total

()

1 0,557 136,3
Gugur
3 0,351
4 0,557
5 0,478
6 0,323
7 0,42
8 0,53
9 0,461
10 0,599
11 0,397
12 0,602
13 0,34
14 0,438
15 0,547
16 0,34
17 0,557
18 0,299
19 0,441
20 0,3
Gugur
22 0,547
Gugur
24 0,478
25 0,533
26 0,478
27 0,34
28 0,34
29 0,516
30 0,602
Jumlah 12,374

Setelah angka-angka tersebut pada tabel di atas diperoleh, kemudian dimasukkan ke dalam rumus KR.20, sehingga:

(dibulatkan menjadi 0.94)

Kriteria sebuah instrumen angket dikatakan reliabel apabila harga rii hitung yang diperoleh adalah > 0.50. Dari hasil perhitungan diperoleh harga Rii sebesar 0.94. Jika harga tersebut dikonsultasikan dengan harga tabel uji reliabilitas, maka angket pada variabel Y dikategorikan memiliki Reliabilitas Sangat Tinggi.

Dengan demikian, jumlah butir angket yang digunakan untuk mengumpulkan data penelitian adalah sebanyak 28 untuk variabel X dan 27 untuk variabel Y.

LAMPIRAN 8.

PERHITUNGAN HASIL PENELITIAN

Berdasarkan penelitian yang dilakukan pada siswa SMK BM Pencawan Medan diperoleh data penelitian seperti yang terangkum dalam tabel berikut ini:

Tabel 15. Statistik Skor Data Penelitian Variabel X dan Variabel Y

Responden Variabel Penelitian
Kompetensi Kepribadian Guru (X) Minat Belajar PAK Siswa (Y)
1 87 75
2 85 83
3 81 77
4 78 74
5 65 84
6 98 94
7 83 91
8 95 93
9 79 94
10 67 92
11 84 90
12 58 77
13 63 84
14 87 94
15 70 92
16 59 91
17 75 87
18 73 95
19 91 93
20 100 92
21 83 86
22 83 91
23 71 90
24 56 96
25 84 98
26 77 93
27 85 84
28 80 95
29 76 92
30 87 102
31 98 100
32 95 100
33 95 99
34 96 95
35 95 91

Dari tabel di atas dapat diketahui harga statistik belanja masing-masing variabel, yaitu:

= 2839                               = 3164

= 235291                       = 287716

=  8059921                      =  10010896

N         = 35                                = 257593

  1. 1. Deskripsi Data Penelitian

Sehingga rata-rata skor penelitian dan standar deviasi masing-masing penelitian dapat dideskripsikan seperti berikut ini:

  1. Variabel Kompetensi Kepribadian Guru PAK (X)

1)      Rata-rata Skor (M)

M   =

=

=  81,1

2)      Standar Deviasi (S)

  1. Variabel Minat Belajar PAK Siswa (Y)

1)      Rata-rata Skor (M)

M   =

=

=  90.4

2)      Standar Deviasi  (S)

  1. 2. Uji Persyaratan Analisis
    1. a. Uji Normalitas Data Penelitian

1) Variabel Kompetensi Kepribadian Guru PAK (X)

Untuk melakukan uji normalitas data Variabel Kompetensi Kepribadian Guru PAK (X), terlebih dahulu data hasil penelitian di bagi menjadi 6 kelas dengan format yang tertera berdasarkan rumus Sturges (k = 1+ 3.3 log N) pada tabel distribusi frekuensi data pada bab sebelumnya. Sehingga diperoleh bahwa :

k = 1 + 3.3 log 35

k = 1 + 3.3 (1.54)

k = 1 + 5.08

k = 6.08 (dibulatkan menjadi 6)

Dan frekuensi harapan dicari dengan:

Kelas 1.           2%. N  = 2%. 35          =  0.7

Kelas 2.           14%. N = 14% .35      = 4.9

Kelas 3.           34%. N = 34%. 35      = 11.9

Kelas 4.           34%. N = 34%. 35      = 11.9

Kelas 5.           14%. N =34%. 35       = 4.9

Kelas 6.           2%. N = 34%. 35        = 0.7

Kemudian, dari data yang terkumpul pada penelitian Variabel Kompetensi Kepribadian Guru PAK (X) diperoleh hasil perhitungan sebagai berikut:

Tabel 16. Uji Normalitas Data Variabel Kompetensi Kepribadian Guru PAK (X)

Kelas Interval Kelas Fo Fh Fo-Fh (Fo-Fh)2
1

2

3

4

5

6

105.38– 117.52

93.24 – 105.37

81.10 – 93.23

68.96 – 81.09

56.82 – 68.95

44.68 – 56.81

0

8

12

9

6

0

0.7

4.9

11.9

11.9

4.9

0.7

-0.7

3.1

0.1

-2.9

1.1

-0.7

0.49

9.61

0.01

8.41

1.21

0.49

0.7

1.961224

0.00084

0.706723

0.246939

0.7

Jumlah 35 35 -1.7 20.22 4,31573

Berdasarkan harga distribusi frekuensi data pada tabel di atas (db = 5) diperoleh bahwa harga adalah sebesar 4,315. Apabila dibandingkan dengan  untuk taraf signifikansi 5% sebesar 11, 07 maka diperoleh bahwa < (<)dan dapat disimpulkan bahwa distribusi data Variabel Kompetensi Kepribadian Guru PAK (X) adalah berdistribusi normal.

2) Variabel Minat Belajar PAK Siswa (Y)

Demikian halnya dengan variabel X, variabel Minat Belajar PAK Siswa (Y) juga diuji dengan menggunakan teknik yang sama seperti pada pengujian variabel terikat. Dari hasil perhitungan diperoleh klasifikasi data seperti pada tabel berikut:

Tabel 17. Uji Normalitas Data Variabel Minat Belajar PAK Siswa (Y)

Kelas Interval Kelas Fo Fh Fo-Fh (Fo-Fh)2
1

2

3

4

5

6

104.50 – 111.60

97.45 – 104.49

90.40  – 97.44

83.35 – 90.39

76.30 – 83.34

69.25 – 76.29

0

5

18

8

2

2

0.7

4.9

11.9

11.9

4.9

0.7

-0.7

0.1

6.1

-3.9

-2.9

1.3

0.49

0.01

37.21

15.21

8.41

1.69

0.7

0.002

3.127

1.278

1.716

2.414

Jumlah 35 35 -1.8 63.02 9,24

Berdasarkan harga distribusi frekuensi data pada tabel di atas (db = 5) diperoleh bahwa harga adalah sebesar 9.24. Apabila dibandingkan dengan  untuk taraf signifikansi 5% sebesar 11, 07 maka diperoleh bahwa < (<) dan dapat disimpulkan bahwa distribusi data Variabel Minat Belajar PAK Siswa (Y) adalah berdistribusi normal.

Tabel 18. Distribusi Chi Kuadrat (Chi Square)

df\area 1 0.99 0.98 0.95 0.9 0.75 0.5 0.25 0.1 0.05 0.03 0.01 0.01
1 4E-05 2E-04 1E-03 0.004 0.016 0.102 0.455 1.323 2.706 3.841 5.024 6.635 7.879
2 0.01 0.02 0.051 0.103 0.211 0.575 1.386 2.773 4.605 5.991 7.378 9.21 10.6
3 0.072 0.115 0.216 0.352 0.584 1.213 2.366 4.108 6.251 7.815 9.348 11.34 12.84
4 0.207 0.297 0.484 0.711 1.064 1.923 3.357 5.385 7.779 9.488 11.14 13.28 14.86
5 0.412 0.554 0.831 1.145 1.61 2.675 4.351 6.626 9.236 11.07 12.83 15.09 16.75
6 0.676 0.872 1.237 1.635 2.204 3.455 5.348 7.841 10.64 12.59 14.45 16.81 18.55
7 0.989 1.239 1.69 2.167 2.833 4.255 6.346 9.037 12.02 14.07 16.01 18.48 20.28
8 1.344 1.647 2.18 2.733 3.49 5.071 7.344 10.22 13.36 15.51 17.53 20.09 21.95
9 1.735 2.088 2.7 3.325 4.168 5.899 8.343 11.39 14.68 16.92 19.02 21.67 23.59
10 2.156 2.558 3.247 3.94 4.865 6.737 9.342 12.55 15.99 18.31 20.48 23.21 25.19
11 2.603 3.053 3.816 4.575 5.578 7.584 10.34 13.7 17.28 19.68 21.92 24.72 26.76
12 3.074 3.571 4.404 5.226 6.304 8.438 11.34 14.85 18.55 21.03 23.34 26.22 28.3
13 3.565 4.107 5.009 5.892 7.042 9.299 12.34 15.98 19.81 22.36 24.74 27.69 29.82
14 4.075 4.66 5.629 6.571 7.79 10.17 13.34 17.12 21.06 23.68 26.12 29.14 31.32
15 4.601 5.229 6.262 7.261 8.547 11.04 14.34 18.25 22.31 25 27.49 30.58 32.8
16 5.142 5.812 6.908 7.962 9.312 11.91 15.34 19.37 23.54 26.3 28.85 32 34.27
17 5.697 6.408 7.564 8.672 10.09 12.79 16.34 20.49 24.77 27.59 30.19 33.41 35.72
18 6.265 7.015 8.231 9.39 10.86 13.68 17.34 21.6 25.99 28.87 31.53 34.81 37.16
19 6.844 7.633 8.907 10.12 11.65 14.56 18.34 22.72 27.2 30.14 32.85 36.19 38.58
20 7.434 8.26 9.591 10.85 12.44 15.45 19.34 23.83 28.41 31.41 34.17 37.57 40
21 8.034 8.897 10.28 11.59 13.24 16.34 20.34 24.93 29.62 32.67 35.48 38.93 41.4
22 8.643 9.542 10.98 12.34 14.04 17.24 21.34 26.04 30.81 33.92 36.78 40.29 42.8
23 9.26 10.2 11.69 13.09 14.85 18.14 22.34 27.14 32.01 35.17 38.08 41.64 44.18
24 9.886 10.86 12.4 13.85 15.66 19.04 23.34 28.24 33.2 36.42 39.36 42.98 45.56
25 10.52 11.52 13.12 14.61 16.47 19.94 24.34 29.34 34.38 37.65 40.65 44.31 46.93
26 11.16 12.2 13.84 15.38 17.29 20.84 25.34 30.43 35.56 38.89 41.92 45.64 48.29
27 11.81 12.88 14.57 16.15 18.11 21.75 26.34 31.53 36.74 40.11 43.19 46.96 49.64
28 12.46 13.56 15.31 16.93 18.94 22.66 27.34 32.62 37.92 41.34 44.46 48.28 50.99
29 13.12 14.26 16.05 17.71 19.77 23.57 28.34 33.71 39.09 42.56 45.72 49.59 52.34
30 13.79 14.95 16.79 18.49 20.6 24.48 29.34 34.8 40.26 43.77 46.98 50.89 53.67
  1. b. Uji Linieritas dan Keberartian Persamaan Regresi

Sebelum dilakukan perhitungan uji linieritas dan keberartian, terlebih dahulu harus diketahui harga statistic belanja korelasi variabel penelitian (lorelasi antara data-data penelitian pada masing-masing variabel, yaitu X dan Y) seperti yang tertera di bawah ini:

= 2839                               = 3164

= 235291                       = 287716

=  8059921                      =  10010896

N         = 35                                = 257593

Selanjutnya, uji liniearitas dilakukan dengan uji regresi linear sederhana yaitu Y= a + bx. Untuk mencari a (bilangan konstan atau intercept) dan b (bilangan koefisien predictor).

  1. Bilangan Konstan atau Intercept

Meski pada bab 3 sudah disebutkan rumus yang digunakan untuk mencari bilangan konstan atau intercept, namun untuk mempermudah proses perhitungan, rumus tersebut dapat dicari dengan menggunakan aplikasi Komputer Ms. Excell. Untuk menghitung besarnya  a  dapat dihitung dengan menggunakan formula :

=INTERCEPT(range data1:range data2) lalu ENTER

Range data 1   : data variabel Y

Range data 2   : data variabel X.[93]

  1. bilangan koefisien predictor

=SLOPE(x,range data1:range data2) lalu ENTER

Kemudian, untuk menghitung besarnya  b  (bilangan koefisien predictor) dapat dihitung dengan menggunakan formula :

Atau dengan cara lain adalah dengan mengklik Tools pada kotak dialog pada komputer, lanjutkan dengan Data Analisys.  Setelah kotak dialog dari  Data Analisys muncul selanjutnya muncul kotak dialog regressions dan akhiri dengan mengklik OK.

Selanjutnya pada kotak dialog regressions, masukkan Input Y Range (Data Variabel Y) dan Input X Range (data Variabel X) yang ada pada tabel di atas, dan akhiri dengan OK. Maka hasilnya akan muncul seperti pada gambar berikut:

Gambar Hasil Analisis Regresi

Dari gambar  tersebut terdapat kolom Coefficients dengan angka 75,053 dan 0.189. Inilah yang disebut dengan a dan b. Dengan demikian dapat ditulis persamaan Y= a + bx. Atau Y = 75,053 + 0,189x.

Selanjutnya untuk mengetahui apakah persamaan garis regresi yang diperoleh mempunyai keberartian dan linier, maka dilanjutkan dengan uji F dengan langkah-langkah berikut:

  1. =

= 287716

  1. =

=

=

  1. =

=

=

=

=

=

  1. =

=

=  -100.2

  1. =

=

=

= 1690,4

  1. =

=

= -1790.6

Kemudian, rata-rata jumlah kuadrat RJK dapat dilihat dari hasil bagi JK dengan db masing-masing dihitung seperti di bawah ini:

  1. Varians Regresi (S2 reg)    =

=           = 1790.6

  1. Varians Residu ()       =

=

=

=

=

  1. Varians Tuna Cocok

=

=

=

=

db. Regresi total  =   N  = 35

db. Regresi (a)      =   1

db. Sisa                 =   N  – 2  = 35 – 2   = 33

db. Tuna Cocok    =   K  – 2  = 21 – 2   = 19

db. Kekeliruan      =   N – K  = 35 – 21 = 14

  1. Varians Kekeliruan

=

=

= 120.74

  1. Uji Kelinieran persamaan Regresi digunakan rumus :

Tabel 19 Distribusi F untuk Propabilita = 0.05

df untuk Penyebut (N2) df untuk pembilang (N1)
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15
1 161 199 216 225 230 234 237 239 241 242 243 244 245 245 246
2 18.51 19.00 19.16 19.25 19.30 19.33 19.35 19.37 19.38 19.40 19.40 19.41 19.42 19.42 19.43
3 10.13 9.55 9.28 9.12 9.01 8.94 8.89 8.85 8.81 8.79 8.76 8.74 8.73 8.71 8.70
4 7.71 6.94 6.59 6.39 6.26 6.16 6.09 6.04 6.00 5.96 5.94 5.91 5.89 5.87 5.86
5 6.61 5.79 5.41 5.19 5.05 4.95 4.88 4.82 4.77 4.74 4.70 4.68 4.66 4.64 4.62
6 5.99 5.14 4.76 4.53 4.39 4.28 4.21 4.15 4.10 4.06 4.03 4.00 3.98 3.96 3.94
7 5.59 4.74 4.35 4.12 3.97 3.87 3.79 3.73 3.68 3.64 3.60 3.57 3.55 3.53 3.51
8 5.32 4.46 4.07 3.84 3.69 3.58 3.50 3.44 3.39 3.35 3.31 3.28 3.26 3.24 3.22
9 5.12 4.26 3.86 3.63 3.48 3.37 3.29 3.23 3.18 3.14 3.10 3.07 3.05 3.03 3.01
10 4.96 4.10 3.71 3.48 3.33 3.22 3.14 3.07 3.02 2.98 2.94 2.91 2.89 2.86 2.85
11 4.84 3.98 3.59 3.36 3.20 3.09 3.01 2.95 2.90 2.85 2.82 2.79 2.76 2.74 2.72
12 4.75 3.89 3.49 3.26 3.11 3.00 2.91 2.85 2.80 2.75 2.72 2.69 2.66 2.64 2.62
13 4.67 3.81 3.41 3.18 3.03 2.92 2.83 2.77 2.71 2.67 2.63 2.60 2.58 2.55 2.53
14 4.60 3.74 3.34 3.11 2.96 2.85 2.76 2.70 2.65 2.60 2.57 2.53 2.51 2.48 2.46
15 4.54 3.68 3.29 3.06 2.90 2.79 2.71 2.64 2.59 2.54 2.51 2.48 2.45 2.42 2.40
16 4.49 3.63 3.24 3.01 2.85 2.74 2.66 2.59 2.54 2.49 2.46 2.42 2.40 2.37 2.35
17 4.45 3.59 3.20 2.96 2.81 2.70 2.61 2.55 2.49 2.45 2.41 2.38 2.35 2.33 2.31
18 4.41 3.55 3.16 2.93 2.77 2.66 2.58 2.51 2.46 2.41 2.37 2.34 2.31 2.29 2.27
19 4.38 3.52 3.13 2.90 2.74 2.63 2.54 2.48 2.42 2.38 2.34 2.31 2.28 2.26 2.23
20 4.35 3.49 3.10 2.87 2.71 2.60 2.51 2.45 2.39 2.35 2.31 2.28 2.25 2.22 2.20
21 4.32 3.47 3.07 2.84 2.68 2.57 2.49 2.42 2.37 2.32 2.28 2.25 2.22 2.20 2.18
22 4.30 3.44 3.05 2.82 2.66 2.55 2.46 2.40 2.34 2.30 2.26 2.23 2.20 2.17 2.15
23 4.28 3.42 3.03 2.80 2.64 2.53 2.44 2.37 2.32 2.27 2.24 2.20 2.18 2.15 2.13
24 4.26 3.40 3.01 2.78 2.62 2.51 2.42 2.36 2.30 2.25 2.22 2.18 2.15 2.13 2.11
25 4.24 3.39 2.99 2.76 2.60 2.49 2.40 2.34 2.28 2.24 2.20 2.16 2.14 2.11 2.09
26 4.23 3.37 2.98 2.74 2.59 2.47 2.39 2.32 2.27 2.22 2.18 2.15 2.12 2.09 2.07
27 4.21 3.35 2.96 2.73 2.57 2.46 2.37 2.31 2.25 2.20 2.17 2.13 2.10 2.08 2.06
28 4.20 3.34 2.95 2.71 2.56 2.45 2.36 2.29 2.24 2.19 2.15 2.12 2.09 2.06 2.04
29 4.18 3.33 2.93 2.70 2.55 2.43 2.35 2.28 2.22 2.18 2.14 2.10 2.08 2.05 2.03
30 4.17 3.32 2.92 2.69 2.53 2.42 2.33 2.27 2.21 2.16 2.13 2.09 2.06 2.04 2.01
31 4.16 3.30 2.91 2.68 2.52 2.41 2.32 2.25 2.20 2.15 2.11 2.08 2.05 2.03 2.00
32 4.15 3.29 2.90 2.67 2.51 2.40 2.31 2.24 2.19 2.14 2.10 2.07 2.04 2.01 1.99
33 4.14 3.28 2.89 2.66 2.50 2.39 2.30 2.23 2.18 2.13 2.09 2.06 2.03 2.00 1.98
34 4.13 3.28 2.88 2.65 2.49 2.38 2.29 2.23 2.17 2.12 2.08 2.05 2.02 1.99 1.97
35 4.12 3.27 2.87 2.64 2.49 2.37 2.29 2.22 2.16 2.11 2.07 2.04 2.01 1.99 1.96
36 4.11 3.26 2.87 2.63 2.48 2.36 2.28 2.21 2.15 2.11 2.07 2.03 2.00 1.98 1.95
37 4.11 3.25 2.86 2.63 2.47 2.36 2.27 2.20 2.14 2.10 2.06 2.02 2.00 1.97 1.95
38 4.10 3.24 2.85 2.62 2.46 2.35 2.26 2.19 2.14 2.09 2.05 2.02 1.99 1.96 1.94
39 4.09 3.24 2.85 2.61 2.46 2.34 2.26 2.19 2.13 2.08 2.04 2.01 1.98 1.95 1.93
40 4.08 3.23 2.84 2.61 2.45 2.34 2.25 2.18 2.12 2.08 2.04 2.00 1.97 1.95 1.92
41 4.08 3.23 2.83 2.60 2.44 2.33 2.24 2.17 2.12 2.07 2.03 2.00 1.97 1.94 1.92
42 4.07 3.22 2.83 2.59 2.44 2.32 2.24 2.17 2.11 2.06 2.03 1.99 1.96 1.94 1.91
43 4.07 3.21 2.82 2.59 2.43 2.32 2.23 2.16 2.11 2.06 2.02 1.99 1.96 1.93 1.91
44 4.06 3.21 2.82 2.58 2.43 2.31 2.23 2.16 2.10 2.05 2.01 1.98 1.95 1.92 1.90
45 4.06 3.20 2.81 2.58 2.42 2.31 2.22 2.15 2.10 2.05 2.01 1.97 1.94 1.92 1.89

Dengan mengkonsultasikan harga pada  F hitung dengan F tabel di atas pada taraf  0,05 (Propabilita = 0.05) dk = N – 2 (db = 30) sebagai pembilang dan ( dk = 3) sebagai penyebut diperoleh F tabel = 2,92. Maka diperoleh Fhidtung <  Ftabel (-0,06 < 2,92) sehingga dapat disimpulkan bahwa persamaan regresi Y = 75,053 + 0,189x adalah linier

Selanjutnya, untuk mengetahui uji keberartian Persamaan Regresi digunakan rumus:

Dari hasil perhitungan diperoleh bahwa Fhitung adalah sebesar -589.7. Jika harga tabel distribusi Ftabel dengan ts 0,05 dk = 1 : 33 adalah sebesar 4.14, maka diperoleh kesimpulan bahwa harga F hidtung < F tabel (-589.7 < 3.316). Dengan demikian diperoleh kesimpulan bahwa koefisien arah regresi tidak berarti.

Tabel 20. Perhitungan Jumlah Kuadrat Galat  (JK (G) X atas Y

Subjek X K N Y Y2 ∑Y ∑(Y)2 ∑Y2 JKG
1 79 1 75 5625
2 80 2 83 6889
3 81 3 2 77 5929 420 35578 176400 -52622
4 81 74 5476
5 82 4 84 7056
6 84 5 94 8836
7 86 6 91 8281
8 88 7 4 93 8649 369 34049 136161 8.75
9 88 94 8836
10 88 92 8464
11 88 90 8100
12 89 8 2 77 5929 161 12985 25921 24.5
13 89 84 7056
14 90 9 2 94 8836 186 17300 34596 2
15 90 92 8464
16 91 10 2 91 8281 178 15850 31684 8
17 91 87 7569
18 93 11 2 95 9025 280 26138 78400 -13062
19 93 93 8649
20 94 12 92 8464
21 95 13 2 86 7396 267 23777 71289 -11868
22 95 91 8281
23 96 14 90 8100
24 98 15 2 96 9216 194 18820 37636 2
25 98 98 9604
26 99 16 2 93 8649 177 15705 31329 40.5
27 99 84 7056
28 101 17 3 95 9025 289 27893 83521 52.6667
29 101 92 8464
30 101 102 10404
31 103 18 2 100 10000 485 47107 235225 -70506
32 103 100 10000
33 105 19 99 9801
34 106 20 95 9025
35 110 21 91 8281
Jumlah 3255 231 25 3164 287716 3006 275202 942162 -147919
  1. 3. Uji Hipotesis

Untuk menganalisis data hasil penelitian, maka dipedomanilah table uji normalitas data masing-masing variable yang telah dihitung pada perhitungan sebelumnya. Karena ternyata kedua harga-harga variabel pada penelitian ini  memenuhi persyaratan normalitas maka digunakan rumus analisis parametrik dengan menggunakan harga kasar yang diajukan oleh Pearson sebagai berikut:

Sehingga:

a)      Uji Nilai Signifikansi

Selanjutnya, untuk mengetahui signifikansi dalam ukuran % adalah rumus determinasi (rxy2) atau uji faktor (analisis) yakni untuk mengetahui ada tidaknya pengaruh secara keseluruhan variabel Kompetensi Kepribadian Guru (X) terhadap variabel Minat Belajar PAK (Y).

Sehingga,     rxy2 =  (0,896)2

= 0,803 (atau 80 %)

b)      Uji Pengaruh

Sedangkan untuk mengetahui pengaruh Kompetensi Kepribadian Guru (X) terhadap Minat Belajar PAK Siswa digunakan rumus koefisien determinasi dengan menggunakan rumus :

Berdasarkan hasil perhitungan di atas diperoleh bahwa harga thitung sebesar 10,39. Jika harga tersebut dikonsultasikan dengan harga ttabel untuk taraf signifikansi 5 %, dk N-1 adalah sebesar 1,697, maka dapat disimpulkan bahwa thitung lebih besar dari ttabel (10,39 > 1,697). Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa terdapat Pengaruh antara Kompetensi Kepribadian Guru (X) terhadap Minat Belajar PAK Siswa (Y).

Tabel 21. Harga Kritik Untuk t

Level of significance for one-tailed test
.10 .05 .025 .01 .005 .0005
Level of significance for one-tailed test
df .20 .10 .05 .02 .01 .001
1 3,078 6,314 12,706 31,821 63,657 636,619
2 1,886 2,92 4,303 6,965 9,925 31,598
3 1,638 2,353 3,182 4,541 5,841 12,941
4 1,533 2,132 2,77 3,747 4,604 8,613
5 1,476 2,015 2,571 3,365 4,032 6,859
6 1,44 1,943 2,447 3,143 3,707 5,959
7 1,415 1,895 2,365 2,998 3,499 5,405
8 1,397 1,86 2,306 2,896 3,355 5,041
9 1,383 1,833 2,262 2,821 3,25 4,781
10 1,372 1,812 2,228 2,764 3,169 4,587
11 1,363 1,796 2,201 2,718 3,106 4,437
12 1,356 1,782 2,179 2,681 3,055 4,318
13 1,35 1,771 2,16 2,65 3,012 4,221
14 1,345 1,761 2,145 2,624 2,977 4,14
15 1,341 1,753 2,131 2,602 2,947 4,073
16 1,337 1,746 2,12 2,583 2,921 4,015
17 1,333 1,74 2,11 2,567 2,898 3,965
18 1,33 1,734 2,101 2,552 2,878 3,922
19 1,328 1,729 2,093 2,539 2,861 3,883
20 1,325 1,725 2,086 2,528 2,845 3,85
21 1,323 1,721 2,08 2,518 2,831 3,819
22 1,321 1,717 2,074 2,508 2,819 3,792
23 1,319 1,714 2,069 2,5 2,807 3,767
24 1,318 1,711 2,064 2,492 2,797 3,745
25 1,316 1,708 2,06 2,485 2,787 3,725
26 1.315 1,706 2,056 2,479 2,779 3,707
27 1,314 1,703 2,052 2,473 2,771 3,69
28 1,313 1,701 2,052 2,467 2,763 3,674
29 1,311 1,699 2,048 2,462 2,756 3,659
30 1,31 1,697 2,045 2,457 2,75 3,646
40 1,303 1,684 2,021 2,423 2,704 3,551
60 1,296 1,671 2 2,39 2,66 3,46
120 1,289 1,658 1,98 2,358 2,617 3,373
1,282 1,645 1,96 2,326 2,576 3,291

c)      Uji Kecenderungan

Untuk mengetahui uji kecenderungan digunakan ketetapan seperti pada tabel Uji Kecenderungan Variabel X terhadap Variabel Y pada bab sebelumnya. Berdasarkan pengamatan pada tabel, hal yang harus diketahui adalah jumlah rata-rata ideal (Mi) dan jumlah standar deviasi ideal (Sdi). Berdasarkan skor data pada kedua variabel penelitian harga-harga tersebut dapat diketahui dengan cara berikut ini:

  1. Variabel Kompetensi Kepribadian Guru (X)

Dari hasil penelitian diperoleh:

Skor Tertinggi adalah : 100

Dan Skor Tertinggi Ideal (STi) adalah : 28 x 4 = 112

Skor Terendah adalah : 56

Dan Skor Terendah Ideal (STri) adalah : 28 x 1 = 28

Sehingga,

Mi        = 1/2 (skor ideal maksimal + skor ideal minimal)

= ½ (112+28)

= ½ (140)

= 70

Sdi       = 1/6 (skor ideal maksimal – skor ideal minimal)

= 1/6 (112 – 28)

= 1/6 (84)

= 14

Sehingga diperoleh klasifikasi data penelitian seperti berikut ini:

Tabel 22. Uji Kecenderungan Kompetensi Kepribadian Guru (X)

Kelas Interval Kelas F% Kategori
1 > 91 8 22,86 Baik
2 70 – 90 21 60 Cukup Baik
3 49  – 69 6 17,14 Kurang Baik
4 < 49 0 0 Tidak Baik
Jumlah 35 100%

Dari tabel di atas terlihat bahwa dua kelas teratas memiliki persentasi sebesar  82,86% (29 orang) dibandingkan dengan dua kelas terbawah, yakni sebesar 17,14% (6 orang). Dengan demikian disimpulkan kompetensi kepribadian Guru di SMK Pencawan Medan Cenderung baik.

  1. Variabel Minat Belajar PAK Siswa (Y)

Skor Tertinggi adalah : 102

Dan Skor Tertinggi Ideal (STi) adalah : 27 x 4 = 108

Skor Terendah adalah : 74

Dan Skor Terendah Ideal (STri) adalah : 27x 1 = 27

Sehingga,

Mi        = 1/2 (skor ideal maksimal + skor ideal minimal)

= ½ (108+27)

= ½ (135)

= 67,5

Sdi       = 1/6 (skor ideal maksimal – skor ideal minimal)

= 1/6 (108 – 27)

= 1/6 (81)

= 13.5

Sehingga diperoleh klasifikasi data penelitian seperti berikut ini:

Tabel 23.Uji Kecenderungan Variabel Minat Belajar PAK Siswa (Y)

Kelas Interval Kelas F% Kategori
1 > 87.75 25 71,43 Baik
2 67.5 – 87.75 10 28,57 Cukup Baik
3 47.25 – 67.5 0 0 Kurang Baik
4 < 47.25 0 0 Tidak Baik
Jumlah 35 100%

Dari tabel di atas terlihat bahwa dua kelas teratas memiliki persentasi sebesar  100 % (35 orang) dibandingkan dengan dua kelas terbawah, yakni sebesar 0 % (0 orang). Dengan demikian disimpulkan kompetensi Sebanyak 100 % Siswa memiliki Minat Belajar PAK yang Cenderung baik.

Berdasarkan hasil kedua perhitungan uji kecenderungan di atas, terlihat bahwa 82,86% siswa yang mengalami Kompetensi Kepribadian Guru yang baik akan cenderung menghasilkan Minat Belajar PAK Siswa Sebesar 100%. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa Kompetensi Kepribadian Guru akan sangat mempengaruhi Minat Belajar PAK Siswa.


[13] Muhamad Ali. Penelitian Pendidikan dan Strategi. Bandung: Angkasa, 1997, halaman 7

[14] Ibid, halaman 8

[15] H. Fuad Ihsan, Dasar-Dasar Kependidikan, Jakarta: Rineka Cipta. 2003, halaman 123

[16] Yudo Wibowo. Penuntun Guru Agama Kristen. Jakarta BPK.G.Mulia 1999, halaman 20

[17] Muhibbin Syah, Psikologi Pendidikan Suatu Pendekatan Baru, Bandung: Remaja Rosdakarya. 1995, halaman 230

[18] Syaiful Bahri Djamarah, Guru dan Anak Didik dalam Interaksi Edukatif, Jakarta: Rineka Cipta, 2000, halaman 31

[20] Muhibbin Syah, Psikologi Pendidikan suatu Pendekatan Baru, Bandung: Remaja Rosdakarya, 1996, halaman 221.

[21] Zakiah Daradjat, Kesehatan Mental, Jakarta: Haji Masagung, 1989, halaman129.

[22] Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian , Jakarta : Rineka Cipta, 1997, halaman 36

[23] Thomas dan S. Nasution, Penuntun Membuat Skripsi,  Bandung : 1980, halaman75

[24] Mohammad Ali, Prosedur dan Strategi Penelitian Pendidikan , Bandung : Aksara, 1985, halaman30

[25] Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek, Jakarta : Bina aksara, 1984, halaman24

[26] Danim, Sudarwan, Inovasi Pendidikan Dalam Upaya Peningkatan Profesionalisme Tenaga Kependidikan. Bandung:  CV Pustaka Setia, 2002, halaman 76

[27] Suharsimi Arikunto., Manajemen Pengajaran Secara Manusia. Jakarta: Rineka Cipta, 1993, halaman 249

[28] Usman, Uzer, Menjadi Guru Profesional edisi kedua), Bandung:  Remaja Rosdakarya, 1997), halaman 1

[29] Mulyasa, E, Standar Kompetensi dan Sertifikasi Guru Cet. Ke-3, Bandung: Remaja Rosda Karya, 2008), halaman 38

[30] Muhibbin Syah. Psikologi Pembelajaran dan Pengajaran. Bandung: Yayasan Bhakti Winaya., 2003), halaman 230

[31] Yusuf, Syamsu.. Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja. Bandung : PT Remaja Rosdakarya), 20010, halaman 37

[32] Depdiknas, Undang-undang Republik Indonesia No. 14 2005, Jakarta : Depdiknas RI, 2005), halaman 6

[33] Muhibbin Syah. Psikologi Pembelajaran dan Pengajaran. Bandung: Yayasan Bhakti Winaya, 2003), halaman 138

[34] Anwar Qomari, Reorientasi Pendidikan Dan Profesi Keguruan, Jakarta : Uhamka Press, 2004), halaman63

[35] Suharsimi Arikunto., Manajemen Pengajaran Secara Manusia. Jakarta: Rineka Cipta, 19930, halaman 239.

[36] Zakiah Daradjat, Kesehatan Mental, Jakarta: Haji Masagung, 1989, halaman129

[37] Muhibbin Syah, Psikologi Pendidikan Suatu Pendekatan Baru, Bandung: Remaja Rosdakarya. 2000, halaman 225-226

[38] Anwar Qomari, Reorientasi Pendidikan Dan Profesi Keguruan, Jakarta : Uhamka Press, 2004), halaman 63

[39] Muh. Syah., Psikologi Pembelajaran dan Pengajaran. Bandung: Yayasan Bhakti Winaya., 2003, halaman 225-226

[40] Muh. Syah, Ibid

[41] Rachmadi Widdiharto,  Kepribadian Guru, Yogyakarta : Pusat Pengembangan Dan Pemberdayaan Pendidikan Dan Tenaga Kependidikan, 2008, halaman 15

[42] Rachmadi Widdiharto, Ibid, halaman 15

[43] Slameto, Belajar dan faktor-faktor yang mempengaruhinya, Jakarta : Rineka Cipta, 2003,  halaman 181

[44] Kartini Kartono, Psikologi Umum, Jakarta: Kosgoro, 1980, halaman 102

[45] Gie, Metode Belajar dan Kesulitan Belajar, Bandung : Tarsito, 1983, halaman 103

[46] Gie, Ibid, halaman104

[47] Bimo Walgito, Bimbingan Dan Penyuluhan di Sekolah, Yogyakarta : Fakultas Psykologi UGM, 1981, halaman 38

[48] Kartini Kartono, Teori Kepribadian, Jakarta: BPK- G. Mulia, 1986 , halaman 82

[49] Poerbawatja Suganda, Ensiklopedii Pendidikan, Jakarta : Gunung Agung, 1982, halaman 214

[50] W.J.S Poerwadamita, Op.cit, halaman 650

[51] Poerbawatja Soeganda, Op.cit, halaman 221

[52] Neugroho, Penelitian Terapan, Yogyakarta: Fakultas Psikologi Universitas Gajah Mada, 1982, halaman 5

[53] Slameto, Op.cit, halaman 180

[54] Singgih D Gunarsa, Psikologi Perawatan, Jakarta: BPK- G. Mulia, 1988, halaman 5

[55] Wayan Nurkancana, Evaluasi Pendidikan, Surabaya: Usaha Nasional, 1983, halaman 229

[56] E. Usman Efendi, Pengantar Psikologis, Bandung: Angkasa, 1984, halaman 72

[57] Gazali dalam Slameto,  Ibid, halaman 56

[58] Kartini Kartono, Ibid, halaman 82

[59] MC Donal dalam Wasti Sumanto, Psikologi Pendidikan, Jakarta :Bina Karsa, 1996, halaman 191

[60] Ngalim Purwanto, Psikologi Pendidikan, Jakarta: BPK G. Mulia, 1997, halaman 69

[61] W.J.S. Poerwardaminta, Op.cit, halaman 332

[62] Agus Sujanto, Psikologi Umum, Jakarta: Aksara Baru, 1979, halaman 86

[63] Rochman Natawidjaja, Psikologi Perkembangan, Jakarta: CV mutiara, 1979, halaman 95

[64] Agus Sujanto, Op.cit, halaman 86

[65] M. Ngalim Purwanto, Psikologi Pendidikan, Bandung: Remaja Rosdakarya, 2003, halaman 52

[66] Agus Sujanto, Psikologi Perkembangan, Jakarta: Aksara, 1984, halaman 175

[67] http:// Iman Sugema.wordpress.com/200/02/03

[68] Judith. J.H & Raymond. J.W, Hasrat Untuk Belajar. Jogjakarta : Pustaka Pelajar, 2004, halaman  78

[69] M. Ngalim Purwanto, Op.cit, halaman 60

[70] Dirto Hadi Susanto, Pendidikan dan Masalah-Masalahnya, Jakarta: Fakultas Ilmu Pendidikan, 1987, halaman 59

[71] Slameto, op.cit, halaman 100

[72] J. Munthe, Diktat Ilmu Mendidik, Medan: 1985, halaman 1

[73] Soerkawarti, Meningkatkan Efektifitas Mengajar, Jakarta: Pustaka Jaya, 1995, halaman 23

[74] Dimyati &Mudjiono, Belajar dan Pembelajaran, Jakarta: Rineka Cipta, 2006), halaman 190

[75] S. Soeto, Praktek Keguruan, Bandung: Angkasa, 1976, halaman 37

[76] Winarno Surakhmad, Bimbingan Penyuluhan, Jakarta: PT. Gajah Mada, 1982, halaman 96

[77] Singgih D. Gunarsa, Psikologi untuk Keluarga, Jakarta: BPK-G. Mulia, 1981, halaman 9

[78] Jonh Looke Singgih Cumarad, Psikologi Perkembangan, Jakarta: BPK-G. Mulia, 1981, halaman 63

[79] WS. Winkel, Psikologi Perkembangan, Jakarta: Gramedia, 1982, halaman 35

[80] Thamrin Nasution, Membangkitkan Minat Belajar, Madju, Jakarta-Medan-Bandung, 1984, halaman 39

[81] Ibid, halaman 40

[82] Sudarmoto,  Cara Belajar, Jakarta: BPK-G. Mulia, 1995, halaman 103

[83] Sardiman A.M, Op.cit, halaman 95

[84] Husaini Usman dan Purnomo Setiady Akbar, Metedologi Penelitian Sosial,  Jakarta : Bumi Aksara, 1996, halaman 38

[86]Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian, Jakarta: Rineka Cipta, 2005, halaman108-109

[87] Ridwan, M. Belajar Mudah Penelitian Untuk Guru karya dan Penelitian Pemula, Bandung:Alfa Beta,2005, halaman16

[88] Suharsimi Arikunto, Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan, Jakarta: Bumi Aksara, 2003, halaman 72

[89] MP. Silitonga, Modul Metodologi Penelitian Pendidikan, Medan:  IAKPSU, 2009, halaman 50-52

[90] Fo’atora Telaumbanua. Pengolahan Data Penelitian Perbandingan Dan Hubungan, Jakarta: FKIP – UKI, 2005, halaman 93-95

[91] Fo’atora Telaumbanua. Pengolahan Data Penelitian Perbandingan Dan Hubungan, Jakarta: FKIP – UKI, 2005, hal. 102-103

[92] Depdiknas, Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2005 Tentang Guru dan Dosen, Jakarta:Depdiknas, 2005, halaman 6-7

[93] Fo’atora Telaumbanua. Pengolahan Data Penelitian Perbandingan Dan Hubungan, Jakarta: FKIP – UKI, 2005), hal. 102-103

Tentang elshalom

Sedang melanjutkan studi Pascasarjana (Prodi PAK) di STT Baptis Medan
Tulisan ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s